Copyright © Der Kampf um die Träume
Design by Dzignine
Sabtu, 09 Mei 2009

SMUDAMA, never ending story ------> judul yang tepat bagi semua orang yang pernah bersekolah di SMUDAMA part.2

Setelah pulang ke Makassar, saya deg-degan apakah saya diterima atau tidak. Bayangkan saja, yang diterma cuma 90 orang dari kurang lebih 300-an orang yang tes. Dan pada akhirnya, keesokan harinya di koran, telah dimuat pengumumannya dan saya lolos!! Pada waktu itu saya tidak tahu harus senang atau sedih (seperti yang saya katakan sebelumnya).

Setelah hasil tes tersebut, pada hari kamisnya saya pergi ke smudama untuk mendaftar ulang. Di sana saya melihat bahwa saya urutan ke 11 pada waktu tes dan saya heran. Loh?? kok bisa 11?? Padahal saya kan tidak terlalu belajar... Pada waktu mendaftar ulang saya bertemu dengan Inas Rizky Humairah, yang juga lolos dengan peringkat ke 2 (wow!!), dan berasal dari SMP 6 Makassar. Orangtua kami sempat berbincang-bincang sebentar dengan Bu Asniwati, koordinator asrama, tentang peraturan-peraturan pada saat 2 bulan pertama, dimana kami semua (kelas satunya) dilarang pulang ke rumah di daerah masing-masing dan dilarang untuk menghubungi keluarga dengan cara apapun.

Jadi setelah itu, saya pulang kembali ke Makassar dan menyiapkan barang-barang yang akan saya bawa ke smudama karena saya tidak akan pulang selama 2 bulan sampai liburan bulan puasa. Dan saya juga sempat tes di SMA 17 untuk sekadar tes-tes kemampuan.

Dan tidak terasa satu minggu telah berlalu dan pada tanggal 12 Juli 2009, saya dan orangtua saya berangkat dari rumah pada pukul 08.00 WITA menuju ke smudama. Saya sedih karena tidak akan kembali ke rumah selama 2 bulan. Di perjalanan saya deg-degan karena saya tidak sempat melihat asramanya dan saya tidak tahu apapun tentang asramanya.

Pada saat sampai di smudama, mama saya turun ke kantor untuk melihat kamar saya ada di mana. Dia berkata bahwa kamar saya adalah di Seroja 7 dan teman kamar saya berasal dar Gowa dan Pangkep, sedangkan yang satunya saya lupa. Pada saat pertamanya saya sedikit kecewa karena tidak satu kamar dengan anak Makssarnya.

Setelah itu, mobil saya turun ke lapangan basket dan saya mulai mengangkat barang-barang saya. Orangtua saya bertanya kepada salah satu kakak dimana Seroja 7 dan mereka berkata bahwa blok seroja berada di gedung baru. Jujur saja, saya sedikit senang karena mendapatkan gedung yang masih baru.

Ketika saya sudah tiba di sana, mama saya bertanya kepada salah seorang kakak.

"Permisi, di mana kamarnya anakku?" tanya mama saya.
"Siapa namanya anakta', tante? Dari SMP apa?" tanya kakak tersebut yang saya lupa namanya.
"A. Heynoum Dala Rif'at, dari SMP Dian Harapan," jawab mama saya.
"Ooh, di Seroja 7 tante, di atas dan yang paling ujung," kata kakak tersebut sambil melihat saya dengan sedikit heran.

to be continued...

0 komentar:

Posting Komentar