A blog of everyday life and traveling experience.

Tampilkan postingan dengan label summer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label summer. Tampilkan semua postingan
Selasa, 06 Oktober 2015

Summer 2014 : Hello Luxembourg!



Finally I have found the muse to write again (well for this time).

So I'd like to tell you briefly about my one-day adventure in Luxemburg. The disadvantage of writing it one year after your journey is you almost forget everything. I admit that I am regretting it right now (shame on you, my muse!)

So back to the story.


Luxembourg was not on my list on 2014's summer destination. It's simply because I didn't know what to see in that city, and how to get there. And since with Eurailpass I could only choose up to 4 countries and Luxembourg is a small country, I was afraid it might not worth it (but in the end I didn't go to France so...) Fortunately IIK-Dusseldorf offered a few field trips, and of them was to go to Luxembourg! The other option were Amsterdam and Brussels, but I've been there 5 years ago (didn't want to waste my money to visit the same place (well except later with my future husband :p or my family).

So there was an opportunity to visit Luxembourg without having to find the transportation and where to go. So why not? The price was 45Euro, and I thought it was okay for one day (sadly no lunch included!)

We gathered at Dusseldorf train station at 6. There were only about another 40 students, but none was from my class. I was quite sad that time because I didn't know anyone, but I went with the wish to find new friends. The journey took around 3 hours, and we arrived there at 10. (to be honest I slept almost the whole journey haha).

Hello Luxembourg!
We had the tour guide, I forgot the language of the instructor, but it was probably in English. Of, we were lucky because Luxembourg city had an event that day, it was called "Luxembourg in Summer". When we came they were just starting to prepare the stage, but after our tour the music started. So we were divided into two groups, and here I met new friends and I spent the day with them! Because IIK was a language institution, our language level was quite varied, so most of the time we spoke English.

the preparation hasn't finished...

yeay!


Luxembourg is a rich country, but it is very small. It' has the highest GDP in EU. The tour guide explained most people spoke Luxembourgish, as well French and German. Luxembourg has only about 500 thousand people... well, my hometown has a lot more than that...








So we began our tour, but somehow in the middle of the journey we lost the tour guide (at Notre Dame). (sorry couldn't explain more about the tour hahaha). At the end of our tour we managed to have a group photo.



Then, it was free timeeee! We headed back to the city center, where the music began to play at the stage. And guess what? They gave us free ice cream! And we ate 2 of them (it was summer, so it was normal to has 2 sticks of ice cream, right?) Then we explored a tiny bit of the city, and separated at lunch. I had Doner Kebab because it was Halal (and also affordable). I really wanted to buy some souvenirs but it was expensive T.T After that we were exhausted and decided to stay around the city center. And guess what? The city offered us free wifi ( I wonder when there will be "Jakarta Free Wifi", "Makassar Free Wifi" or "Surabaya Free Wifi" hahaha).




We went back at 6, and arrived around 9.

It was one amazing experience, beside I got to know people from another part of the world. That's one of the advantage of going (or signing up) alone.

Another posting of my Summer2014's adventure:


Summer 2014 : German Graduation!


Latepost ._.

Sebenarnya saya bisa lebih lama tinggal di Swiss, tetapi karena saya harus menghadiri perpisahan teman saya, maka saya bela-belain ambil kereta malam dari Swiss menuju balik ke Haltern am See. Saya tiba di Haltern sekitar jam 7, untungnya saya di jemput di stasiun kereta (kalau jalan kaki dari stasiun menuju ke rumah memakan waktu kira-kira 15-20 menit dan saya sudah cukup capek). Setelah sampai di rumah saya bilang saya butuh tidur dulu beberapa menit sebelum siap-siap, acaranya mulai jam 8, dan saya ketiduran dan bangun pukul 8 lebih dikit.

Dengan panik saya langsung mengganti baju saya lalu turun ke bawah untuk sarapan. Saya diberitahukan oleh Anne (host-mother saya) kalau dia sudah mengabarkan Gabi (host-tante) bahwa saya akan telat. Kebetulan sepupu saya juga lulus jadi sebelumnya saya sudah janjian bersama mereka untuk pergi bersama-sama ke gereja.

Kalau kalian bertanya, kenapa perpisahan dilaksanakan di gereja? Jadi ini sudah semacam tradisi (saya tidak tahu apakah cuma di sekolah saya atau di seluruh sekolah di Jerman), pada hari perpisahan awalnya dimulai dengan Gottesdienst (Church service) dimana semuanya berkumpul di gereja dan dilaksanakan ibadah (semacam syukuran, cmiiw), dan berlangsung sekitar 2 jam. Dikarenakan saya ketiduran, saya datangnya lumayan telat (untungnya masih ingat jalan ke gereja). Saya sebenarnya deg-degan membuka pintu gereja yang besar (takut diliatin orang), tapi ternyata setelah pintunya dibuka ada pintu lagi. Setelah itu saya menunggu di belakang karena tidak tau mereka duduk di mana. Saya sebenarnya sudah diberitahu kalau mereka duduk di bagian kanan dan disuruh untuk langsung mencari mereka, tetapi kayaknya tidak baik untuk langsung tiba-tiba nyosor mencari mereka (mereka di kasus ini adalah keluarga sepupu saya) di tengah gereja yang hening dan cuma ada suara dari pengisi suara.

Akhirnya ketika sudah mulai ramai, Gabi pun mencari saya di belakang (saya sangat bersyukur karena kaki saya sudah pegal berdiri). Saya lalu diajak duduk bersama yang lain. Duduknya dipisah antara yang lulus (Abitur) dan keluarga. Para Abitur duduk di barisan depan. Setelah 1,5 jaman, akhirnya acaranya selesai, dan setelah itu dengan perlahan berjalan kaki menuju sekolah. Jarak antara gereja dan sekolah ada sektiar 15 menit (jalan santai). Tetapi sebelum itu kami menyempatkan diri untuk berfoto.



Saat tiba di sekolah kami pun lalu diarahkan menuju aula, saya ingat di aula ini merupakan tempat acara-acara besar sekolah seperti teater, orkestra, dll. Saya juga dulu sempat mengikuti lomba matematika di sekolah ini. Sangat ingin saya bernostalgia dengan sekolah yang telah 3 tahun saya tinggalkan, tetapi sayangnya acaranya sudah di mulai. Acaranya bisa dibilang kurang lebih sama seperti acara di Indonesia; ada kata sambutan, band, sepatah kata kenangan... Sembari berjalannya acara saya juga berusaha mencari teman-teman kelas saya dulu. Tidak terasa mereka yang dulunya masih lugu dan masih berusia 14 tahun, akhirnya lulus sekolah. 



Setelah acara selesai saya pun bertemu dengan beberapa teman kelas saya dulu. Merupakan kejutan untuk mereka untuk melihat saya di sana. "Dala, kamu datang ke Jerman demi kami? Wah, terima kasih. Sangat senang melihat kamu di sini," kata salah satu teman saya yang duduk dekat saya dulu (kurang lebih artinya begitu). Saya juga sempat bertemu dengan guru kimia saya, beliau sudah agak tua. Beliau sempat bertanya, "Anda kelihatannya familiar. Anda tau saya?" Dengan tertawa saya pun menjelaskan bahwa saya dulu siswi pertukaran pelajar dan beliau sebagai guru kimia saya.






Setelah itu saya sempat berfoto dengan beberapa teman, dan setelah itu saya dan sepupu saya beserta keluarganya pergi ke restoran untuk makan. Saya ingat kami merayakan ulang tahun saya yang ke-17 di restoran ini (dan sepertinya ini bukan restoran murah).




Acara graduation terbagi 2, pertama di pagi-siang, dan yang kedua mulai pada malam hari. Setahu saya pada malam hari dari jam 8-12 itu acara makan malam bersama, tapi sayang kuotanya terbatas, satu orang hanya dapat membawa 2 orang, jadi saya tidak ikut. Tetapi diatas jam 12, acaranya bebas untuk umum. "Abiball" seperti prom night yang difilm-film yang sering kita tonton, tetapi di sini ga berpasang-pasang kok. Sebelum pergi, saya menyempatkan diri untuk tidur dulu.Akhirnya saya menuju ke tempat acara tersebut pada pukul 12 malam, saya sudah janjian dengan teman saya.




Tetapi karena tipe-tipe acara begini sebenarnya bukan tipe acara saya (well, saya ikut karena yang lulus teman saya), pada jam 2 saya akhirnya pulang.

Jadi itulah postingan tentang German Graduation, semoga bermanfaat!

Another posting of my Summer2014's adventure:



Minggu, 27 September 2015

Summer 2014 : My Two Weeks at IIK (Institute for International Communication) Düsseldorf

So hello! It's nice to write something again, I realize my muse has been up and down these days, and also I have tons to do..

Finally I decided to write something in English, because some people ask me to. I really want to write in a few languages, but sadly no time.

Okay, I know now it's 2015, but I want to throw myself a bit into the past before I forget about it. So for you who didn't know, fortunately I got a chance to fly back to my second home last year (2014). I actually wanted to go in 2013, but there was visa problem so I had to postpone my adventure. And finally I got my visa in the next year, and decided to stay for a month. Let me tell you a secret, I was allowed to go back to Germany after I had an agreement with my parents to do some German course, because they didn't want me to do only "fun". 

After searching some information about some places/institutions, I finally decided to have a two-week intensive course in IIK-Düsseldorf. IIK stands for Institut für Internationale Kommunikation, or in English, Institut for International Communication (it's not difficult to translate, right?). They actually had really good offer for another long-term courses, but I only have 1 month time and the only program possible for me was the 2-week course.

I already signed up before my departure, but I still need to pay and the best way was to pay it direct. So on my very first day, my host father and I went to IIK, and also asked a few questions. To determine my level, I needed to make a placement test, and I remember I took the placement test with Valentine's computer in Switzerland (thank you for that, Valentine!) I got the result a few days later, and fortunately I got the morning class. I prefer to have morning class (from 9 to 12) because I would finish the class early and could do something else later in the afternoon.

My class began on June 30th and for two weeks. Do you know what the tiring part was? It's the journey from Haltern am See to Düsseldorf. As you see from the map below, the distance was about 80km (said Google Maps), and I need about 1 hour and more to get there. So everyday, for 2 weeks, I felt like student again, waking up between 5-6, had breakfast (I showered the night before), and then went to the train station with my bicycle. I had two options of train, the first one departed at 6.43, but I didn't need to change. The second one departed at 7.07, but I needed to wait for about 20 minutes in Essen. Most of the time I took the early one, and arrived 1 hour earlier hahaha ^^ (typical Asia, so diligent :D) I could also take the train at 7.43, but I would be late for a few minutes because it took around 10 minutes by S-Bahn from Düsseldorf train station to IIK-Düsseldorf. 

long long journey..
option 1
option 2
And the way back to home also needed a bit of struggle, because I needed to leave the class immediately after it finished, if I missed the S-Bahn, I would have to wait 1 hour for the train, and would be late for lunch.

So can you feel my tiring 2 weeks?

But to be honest, I slept most of the time on the train, hahaha. The tiring part was only the train part (I spend around 3 hours/day on the train). Beside that, it was an amazing 2 weeks with IIK-Düsseldorf!

Because our class was only for 2 weeks and the holiday hasn't started yet in some other countries, our class had only a few people. At first I guess we had 9 students, but 2 students got transferred to lower class. So there were 7 of us for a few days, until one student got transferred to the regular class because he would stay for 2 months.

But the smaller the class, the more attention we got from the teacher.  From Monday to Wednesday, our teacher was Sarah, and for Thursday and Friday we had Inna. 

The part I love the most was I got the chance to meet some more friends from different countries. So in our tiny class, we had 2 people from Poland, 2 from China, 1 from USA, and me! We had fun even though we barely knew each other at first, but then we got closer and closer during the days, and decided to have reunion a few years later (maybe 5 more years?) in Bali :D :D :D

One day we had lunch together in Japanese Restaurant :)
JAPANESE AREAAA!



So that's my short story about IIK-Düsseldorf, and if I am given another chance, would love to learn again in that place ^^ 


beloved IIK :D

A Ramadha Guide for Non-Muslim!

our small class!

thanks for reading!

Rabu, 19 November 2014

Summer 2014 : Survival (Solo Travelling) in Milan

Halo lagi! (maaf karena postingan ini tertunda sangat lama)

First of all I need to apologize to those who wish to understand the last post but too bad I wrote it in Indonesian. Eigentlich möchte ich auch gerne auf Deutsch oder Englisch schreiben, aber zurzeit schreibe ich noch auf Indonesisch weil das die Sprache die am meistens (meine Facebookfreunde) verstehen können. Also, nach 3-4 Posten, wenn Summer 2014 Serie auf Indonesisch fertig ist, dann schreibe ich auf Deutsch (eine Übung für mich).

Okay, mohon maaf bagi yang tidak mengerti paragraf yang di atas, hehehe .___.v Sekarang mari kita lanjutkan postingan saya yang sebelumnya.

Pada hari kedua saya di Jerman, saya sudah merencanakan jauh-jauh hari sebelumnya untuk pergi ke Milan. Kenapa Milan? Kenapa buka Roma, atau kota yang lain? Jawabannya adalah karena saya tidak punya banyak waktu, dan Milan merupakan kota besar terdekat dengan Swiss, berhubung saya sudah memiliki janji untuk bertemu dengan teman lama di Swiss pada tanggal 25 Juni. Jadi berangkatlah saya pada tanggal 23 Juni 2014 ke Milan dengan naik kereta, rutenya itu :

  • Haltern am See - Düsseldorf
  • Düsseldorf - Basel
  • Basel-Bern
  • Bern-Brig
  • Brig-Milano Centrale
Perjalanan di kereta berlangsung aman dan tentram, tetapi tetap saja saya merasa sedikit deg-degan dan takut dikarenakan ini merupakan pengalaman pertama saya naik kereta antar negara sendirian di Eropa. 4 tahun lalu saya tidak dapat travelling sendirian dikarenakan oleh peraturan AFS, terlebih lagi saya masih berumur 16 tahun. Perjalanan Haltern am See - Milan berlangsung sekitar 13 jam. Saya berangkat pada pukul 9 malam dari Haltern am See, dan tiba di Milan pada pukul 12.30 keesokan harinya.

Tips selama di kereta untuk perjalanan jauh dan harus ganti kereta :
  1. Jangan lupa bawa tiket kereta. Waktu itu saya menggunakan Eurailpass (akan saya jelaskan di postingan yang lain).
  2. Cek baik-baik jadwal perjalanan, jangan sampai ceroboh melihat jam dan tempat (Gleiss/Platfrom) berangkat kereta. Di Eropa keretanya cukup tepat waktu.
  3. Jika harus ganti kereta lebih dari satu kali, bawalah sedikit barang, atau sebisa mungkin satu koper kecil saja, banyaknya barang akan membuat kita membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak.
  4. Bawa buku bacaan, ipod/mp3 player, sediakan powerbank. Di kereta hiburan sangat terbatas, dan jarang terdapat sumber listrik dan internet.
  5. Bawa bantal/travelling pillow, terlebih jika menggunakan night train. Kereta malam akan berjalan lebih lambat dan berhenti beberapa jam di satu stasiun.
  6. Berbicara dengan orang di sekitar. Sekedar tanya mau ke mana dan asal dari mana. Setidaknya tidak merasa terlalu kesepian.
Teddy setia menemani
Pada saat memasuki Swiss, saya sangat senang dikarenakan saya tidak pernah ke Swiss sebelumnya. Tetapi di Basel, Bern, dan Brig saya tidak mempunyai banyak waktu untuk melihat ke sekeliling kota jadinya saya hanya berkeliaran di sekitar stasiun saja. Di Bern saya menyempatkan diri untuk ke ATM dan menarik uang, di Swiss mereka tidak menggunakan Euro melainkan CHF. Satu Euro kurang lebih 15-16rb rupiah, dan satu CHF kurang lebih 13rb rupiah.

Kereta terakhir adalah kereta dari Brig menuju Milano Centrale. Saya kurang beruntung di kereta ini dikarenakan kondisinya sangat rame, untungnya dengan menggunakan Eurailpass, saya sudah memesan tempat duduk sebelumnya, sehingga saya tidak harus berdiri sepanjang perjalanan. Sisa perjalanan saya gunakan untuk tidur.

Dan akhirnya... tibalah saya di Milan! Akhirnya saya pernah menginjak Italia! Saya sangat senang pada saat turun dari kereta, tetapi sekaligus merasa takut. Ini pertama kali saya benar-benar sendiri di negara orang, dan terlebih lagi orang-orang di sini tidak berbicara bahasa Jerman, melainkan bahasa Italia. Dan bahasa Inggris mereka pun tidak bagus-bagus amat. Saya lalu memutuskan untuk mengganti baju saya di kamar mandi terdekat, dan segera mencari cara untuk membeli Milano Card. Saya telah browsing sebelumnya dan mendapat info bahwa dengan Milano Card sudah termasuk tiket metro/bus dalam Milan untuk 24 jam, dan diskon di beberapa toko. Awalnya saya salah tempat menuju mesin tiket kereta, tetapi akhirnya setelah bertanya-tanya dan berkeliling (stasiun Milan sangat besar dan memusingkan) saya akhirnya dapat tempat membelinya, dengan harga €7. Dengan menggunakan google maps, saya lalu pergi ke hotel dengan menggunakan metro.

Hotel telah saya booking jauh hari sebelumnya melalui agoda, sebenarnya di manapun saya tidur tidak menjadi masalah, tetapi orang tua saya melarang saya untuk menginap di hostel (meskipun murah), dikarenakan banyak hostel yang campur atau laki-laki dan perempuan,dan juga tingkat keamanan lebih rendah dibandingkan dengan hotel. Akhirnya saya mendapatkan hotel dengan kamar sendiri dan harga yang lumanya (sekitar 400-500rb) bernama hotel Ambrosiana, di Via Plinio, Milan. Hotelnya (menurut Agoda bintang 3), dan ada beberapa review negatif mengenai hotel itu, tetapi saya sangat puas. Kamarnya bersih, dan wifinya bekerja dengan baik. Sarapannya sangat sederhana, tetapi tidak apa-apa. Kamar mandinya sharing jadi satu kamar mandi digunakan untuk beberapa orang.

Let the adventure begins!
Tempat masuk hotel


Pada saat check in saya cuma harus menunjukkan paspor saya, saya lalu diarahkan menuju kamar saya. Oh iya, hotel tersebut berada di lantai 3 apartemen jadi sangat disarankan untuk membawa barang seadanya dikarenakan tidak adanya lift. Setelah sampai di kamar saya lalu bersiap-siap untuk memulai petualangan saya di Milan, berhubung saya hanya mempunyai waktu kurang dari 24 jam.

Tujuan pertama saya : DUOMO! Saya telah browsing jauh-jauh hari sebelumnya tentang tempat yang harus dikunjungi di Milan, dan Duomo is on the top list. Dengan menggunakan google maps dan peta metro, saya lalu berjalan kaki menuju statisun metro terdekat (Lima), untuk menuju ke Duomo. Nah di sini saya memiliki pengalaman unik sekaligus sedikit mengerikan. 

Seorang pemuda sekitar 20 tahun jalan mendekati saya dan berkata "Do you speak English? I want to go to Duomo but I don't know which way I should go?" Dengan bodohnya saya lalu berkata kalau saya juga ingin ke sana dan saya menunjukkan jalur mana yang harus dia ambil. Saya lalu mengeluarkan handphone saya, dan cowok itu (namanya lupa) meminjam hape saya. Dengan tololnya saya meminjamkannya. Dia lalu dengan asyik memakai handphone saya untuk facebookan sementara saya dengan sangat waspada berdiri di sampingnya dan bersiap untuk mengejarnya jika ternyata dia pencopet. Tetapi pada akhirnya dia mengembalikan hape saya (plus selfie) lalu pergi tanpa mengucapkan terima kasih. Seriously?

Selfie with stranger!


Hello DUOMO!

Kesal saya berhenti dengan cepat dikarenakan saya tiba di Duomo. Finally, akhirnya saya tiba disini! Disaat saya sedang asyik memotret sekitar, seorang pria lalu datang menghampiri saya dan menaruh jagung di tangan saya, dan otomatis semua burung yang ada di sekitar situ datang menghampiri saya. Saya sudah menolak kepada orang tersebut, tetapi dia tetap memberikan tangan saya jagung. Dia menawarkan untuk memfoto saya tetapi saya tidak mau, karena takut hape saya dicopet. Dan tau apa yang terjadi setelah itu? Laki-laki itu lalu meminta bayaran, dan bayarannya juga €20 -_- Katanya untuk orang biasa harganya €100, tetapi karena saya dari Indonesia jadi €20 saja, tetapi setelah tawar menawar (dan saya cukup kesal karena ditipu dan dijebak) saya akhirnya hanya membayar €10. Tetapi di saat saya meminta untuk difotokan, teman pria tersebut datang dan memberikan saya jagung lagi dan pada akhirnya meminta bayaran juga -_- Bayangkan betapa kesalnya saya kehilangan €20 di jam pertama saya di Milan.

Jagungnya mahal loh wkwkwkw :v


Foto €20 T_T

Setelah membayar, saya pun berjalan di sekeliling duomo, menyempatkan diri membeli gelato dan postcard, lalu berjalan-jalan lagi. Tetapi dikarenakan baterai hape saya sudah hampir habis (dan saya tidak membawa camdig, jadi hape merupakan satu-satunya sumber kamera saya), saya lalu balik lagi ke hotel untuk mengcharge handphone saya satu-dua jam sambil merencakan kemana saya akan pergi. Saya awalnya mau pergi ke stadiun San Siro tetapi karena sudah agak sore (takutnya tutup) saya lalu pergi jalan-jalan di sekitar kota saja. Dan, sebelum memasuki metro saya lalu sadar tiket saya hilang dan saya harus membeli ulang (untungya harganya cuma €4.5 yang berlaku seharian). Sebelum jalan-jalan saya kembali ke Milano Central untuk membooking tempat duduk untuk perjalan saya ke Swiss. Setelah jalan-jalan di beberapa tempat, saya ingin pulang tetapi hujan deras. Dan bodohnya saya melupakan payung saya di hotel. Saya lalu menunggu hujan reda dan mengambil bus dengan rute menuju Milano Central karena saya tidak hafal jalan pulang. Tetapi untungnya saya mengingat jalanan sekitar hotel saya dan turun pas di depan hotel.

Gelato, everyone?


Dikarenakan perut lapar hampir kehujanan dan berjalan kaki dalam waktu yang lumayan lama, saya lalu mencari tempat makan di sekitar hotel, dan akhirnya mendapat tempat makan yang cukup hangat dan nyaman (sayangnya lupa nama tempatnya). Saya lalu memesan pizza tuna dan segelas coca-cola, dan membayar €15 setelah makan. Setelah itu saya lalu pulang dan tidur.

Pizza for dinner!

Paginya saya bangun pukul 5 karena saya ingin secepatnya ke tempat yang belum sempat saya datangi. Saya lalu menyimpan barang saya di Milano Centrale (€5/koper) lalu pergi ke San Siro. Sayangnya hujan dan saya hampir di kejar anjing. Harga untuk masuk ke museum San Siro lumyan mahal (€16), dan dikarenakan saya tidak punya banyak waktu saya tidak sempat mengikuti turnya. Tetapi saya lumanya senang dapat mengunjungi stadion tersebut, dan saya dengan terburu-buru kembali ke Milano Centrale, mengambil barang yang saya titipkan, dan segera menuju ke kereta. Hampir saja saya ketinggalan kereta (untungnya tidak).

San Siro!


Tips ketika sendirian/grup di Milan:
  1. Berhati-hatilah dengan orang sekitar, apalagi di sekitar Duomo. Banyak pencopet, penipu, dan lain-lain sebagainya.
  2. Minimalkan membawa uang cash. 
  3. Berpakaian layaknya seperti turis biasa, tidak usah dandan berlebihan,semakin bermerek barang-barang maka semakin tertarik pencopet dkk mendekati.
  4. Beli kartu kereta untuk satu hari, 2 hari (tergantung berapa lama di sana). Milano Card tidak saya sarankan untuk yang bepergian waktu singkat.
  5. Sediakan peta metro di kantung, atau google maps selalu on jika anda terlalu malu untuk bertanya arah.
  6. Sedia payung sebelum hujan (tergantung musim)
Biaya yang saya habiskan selama saya di milan selama sehari tidak melebihi €100.

Dan itulah cerita mengenai perjalanan saya di Milan. Next post will be about my adventure in Switzerland! Stay in touch and thanks for reading!

Rabu, 30 Juli 2014

Summer 2014 : The beginning

So hello!

Akhirnya setelah hampir satu tahun saya menemukan sesuatu yang bisa ditulis. Jadi dalam beberapa postingan berikutnya kalian akan membaca beberapa cerita saya selama di Eropa. 

Alhamdulillah setelah gagal buat visa tahun lalu dikarenakan telatnya Verplichftungserklärung yang datang dari Jerman, tahun ini saya berhasil mendapatkan visa Schengen! Rasanya seperti dream comes true, akhirnya saya bisa balik lagi ke rumah kedua setelah 3 tahun lamanya. Meskipun mepet dengan waktu liburan semester genap (UAS selesai tanggal 13 Juni, balik ke Makassar tanggal 16 Juni, ke Jakarta tanggal 21 Juni), semua persiapan dapat diselesaikan.

Waktu di Makassar sangat mepet karena banyak hal yang harus dipersiapkan, mulai dari packing dkk dkk. Meskipun saya sangat suka dengan travelling, tetapi hal yang paling saya tidak suka adalah packing dan unpacking. Akhirnya saya dibantu oleh adik saya untuk mengepack barang-barang. Setelah 2 hari sibuk mengepack barang, siaplah 20kg koper besar dan 3kg koper kecil. Oh iya, sehari sebelum perjalanan, tanggal 20 Juni, gigi saya dioperasi karena impaksi.

Ready for the flight. Pipi kiri masih bengkak tapinya, haha.

First Flight : Makassar - Jakarta

Total perjalanan kurang lebih 24 jam. Perjalanan saya dimulai dari Makassar, dengan pesawat Lion Air kira-kira pukul 7 malam. Sayangnya saya harus membayar overweight 5kg, tetapi dengan menjelaskan bahwa saya akan mengambil penerbangan internasional, akhirnya saya cuma harus membayar setengahnya. Setelah sampai di Jakarta, saya lalu mengambil bus untuk menyebrang ke terminal 2, bisa dibilang lumayan repot juga membawa dua koper, saya check in lalu menunggu boarding.

Second Flight : Jakarta-Dubai

Perjalanan Jakarta-Dubai memakan waktu sekitar 8 jam, saya menggunakan pesawat Emirates. Selama di pesawat saya menonton beberapa film dan bermain game.

Penghilang rasa bosan di pesawat

Layover in Dubai

Saya harus transit di Dubai selama 2 setengah jam, tetapi menurut saya tidak apa-apa karena saya suka dengan bandara Dubai, ada banyak barang yang bisa dilihat dan Duty Free. Saya mendapat sedikit uang saku dari host family saya ketika mereka mengunjungi saya di Indonesia, dan saya langsung menukarnya ke Dirham. Di bandara internasional Dubai saya cuma singgah untuk mencari tempat makan (kue dan minuman), karena waktu untuk melihat-lihat kurang. Sisa uang dirham saya simpan untuk perjalanan pulang

Third Flight : Dubai-Frankfurt

Perjalanan Dubai-Franfkurt memakan waktu sekitar 6-7 jam, hal yang saya lakukan sama seperti penerbangan sebelumnya, tetapi pesawat yang digunakan lebih bagus daripada pesawat Jakarta-Dubai.

Finally HELLO DEUTSCHLAND!

Setelah 7 jam akhirnya saya tiba di Jerman! SETELAH 3 TAHUN! AKHIRNYA! Saya sangat senang karena bisa kembali ke "kampung halaman", jujur saya sebenarnya saya agak sedikit pesimis bisa kembali ke Jerman dalam waktu yang dekat. Saya lalu menunggu koper saya dan keluar. Di sana Anne, Franz-Josef, dan Jenny sudah menunggu. Saya sangat senang bisa melihat mereka lagi! Kami lalu ke mobil dan pertama-tama mengantar Jenny kembali ke tempat tinggalnya (dia kuliah di Bonn).



Percobaan pertama dengan menggunakan tongsis :D

Setelah mengantar saudara perempuan saya kembali ke tempatnya, kami pun melanjutkan perjalanan ke Haltern am See. Di perjalanan saya kebanyakan tertidur karena masih capek, tetapi saya juga sangat senang dan penasaran seperti apa kota saya selama tiga tahun saya tinggalkan. Setelah 2 jam perjalanan saya akhirnya tiba di rumah. Begitu senang melihat kembali rumah saya, ada beberapa perubahan, terutama di dapur yang telah direnovasi. Kamar saya juga sedikit berubah, yang dulunya meja belajar diganti dengan tempat tidur bayi, tetapi selain itu tidak banyak yang berubah.

Hari kedua

Saya hanya memiliki sedikit waktu di hari kedua dikarenakan saya telah membeli tiket ke Milan pada malam harinya. Agenda saya pada hari kedua adalah untuk mendaftarkan diri saya di Institut for International Communication Düsseldorf (IIK-Düsseldorf) untuk les bahasa Jerman selama 2 minggu. Pada pagi hari saya berjalan-jalan di sekitar kota, makan es krim. Dari Stadt-Zentrum tidak banyak yang berubah, saya sangat senang bisa berada di sini lagi. Saya juga menyempatkan diri untuk membeli kartu SIM, harnya bisa dibilang relatif mahal kalau dibandingkan dengan Indonesia. Untuk kartu perdana harganya €20 dengan pulsa €10. Pulsanya lalu saya gunakan untuk menggunakan internet, paketan unlimitednya €9.95/bulan dengan kuota yang sangat minimal yaitu 200MB. 

Es krim rasa Röcher

Haltern am See
Setelah makan siang, saya dan Franz-Josef lalu berangkat ke Düsseldorf untuk mendaftarkan diri saya. Kami lalu naik kereta pada pukul 14.07 dari Haltern-Essen. Kami harus menunggu sekitar 20 menit untuk melanjutkan perjalanan dari Essen-Düsseldorf. Setelah sampai di sana kami lalu mengambil Straßenbahn menuju ke tempat les. Setelah registrasi selesai, kami lalu pergi untuk mengurus Youngticket (Tiket kereta yang akan saya gunakan untuk transportasi dari Halter-Düsseldorf), lalu pulang. Setelah itu saya mengpacking barang-barang saya untuk ke Milan dan Swiss. 

Saya rasa sekian dulu untuk cerita dua hari pertama saya di Jerman. Saya berterima kasih karena kalian telah membaca cerita "singkat" saya sampai akhir. Saya akan sangat senang jika kalian meninggalkan komen di bawah ini :)

Stay tune and the next story will be : "Summer 2014 : Survival (Solo Travelling) in Milan"!