Copyright © Der Kampf um die Träume
Design by Dzignine
Sabtu, 07 Februari 2015

ISFiT 2015 : Day 2 (part one) - Divine Corruption. Meet the Governance Democracy team!

"It's not too important to look good right now, it's important dress to survive" - Hazal - Turkey

Pada hari kedua ini saya terbangun sekitar jam 4 pagi (tidak bilang shubuh soalnya shubuhan di sini jam 6). Mungkin terbangun cepat karena masih efek jet lag. Saya lalu melanjutkan postingan saya yang kemarin, lalu kembali tidur sebentar. Pada pukul 7 saya bangun lagi, dan kelihatannya orang-orang di rumah sudah pada bangun. Saya lalu pergi menuju ruang makan dan bertanya kepada Xavier apakah kami harus memakai baju formal/tradisional. Katanya dia ga tau, tetapi Gudmund bilang bahwa kita bisa pulang sebentar sore dan mengganti pakaian, karena jarak rumah dan Samfundet (tempat kumpul) tidak jauh.

Saya lalu mengganti baju saya (baju biasa aja), dan sarapan. Saya makan sebanyak mungkin supaya saya tidak lapar dan jajan. Harga di sini sangat mahal, dan saya berusaha sehemat mungkin. Setelah itu, saya, Xavier, dan Alexander diantar (dituntun) ke bus stop terdekat. Busnya sangat penuh dan sangat banyak peserta ISFiT. Membutuhkan sekitar 5-6 stop sampai kami sampai di Samfundet.

Perjalanan menuju bus stop
Saya lalu menyebrang jalan dan menuju ke depan 7-11 dikarenakan saya menerima email untuk bertemu dengan workshop saya. Saya masuk ke workshop Governance Democracy. Awalnya saya salah tempat karena ada banyak peserta lain dari berbagai workshop tetapi akhirnya saya dapat teman workshop saya. Saya berkenalan awalnya dengan Carla dari Peru dan Hazal dari Turki. Setelah berbincang-bincang sebentar, kami lalu mengikuti team leader untuk ke tempat diskusi kami. Kami berjalan kaki sekitar 5 menit dan tiba di sebuah gedung. Kami lalu diarahkan menuju satu ruangan.


Pusat kegiatan setelah workshop berakhir, Samfundet
Kami bercerita sambil menunggu yang lain datang. Kebetulan orang Indonesia di workshop itu ada seorang lagi, namanya Esi Maria, mahasiswa Hukum UI yang tempat kerjanya dibubarin sama Jokowi. Sambil menunggu saya pun mengambil kopi dikarenakan sedikit ngantuk. Sekedar info dari ISFiT kami mendapatkan goodie bag yang berisi baju, buku panduan, dan botol minum, dan saya membawa botol minum saya karena saya tidak ingin membeli air putih (reminder : harganya 50rb/botol).

botol minum sendiri
Acara dibuka sekitar pukul 9an, dimulai dengan presentasi sedikit mengenai ISFiT oleh team leader (ada 4), dan kemudian kami semua melakukan check in. Check in adalah aktifitas dimana kami harus menceritakan perasaan kemari hari ini dan kemarin. Kami lalu sekaligus memperkenalkan diri kami masing-masing dan dari mana kami berasal. Dan setelah perkenalan tersebut kami harus mengatakan "check-in". Setelah itu kami lalu bermain untuk berusaha memetakan diri kami di ruangan berdasarkan peta dunia tanpa menyebutkan negara masing-masing ketika mencari tempat yang cocok. Ada 24 orang di workshop ini, dan ternyata kami lengkap dari 5 benua! 

selfie sambil menunggu yang lain


Setelah itu acara selanjutnya adalah speed date (bukan kencan beneran loh ya), dimana kami duduk berhadapan dan berdiskusi soal satu pertanyaan yang ada di papan tulis. Setiap 2-3 menit pertanyaannya berganti, dan juga orangnya berganti. Ini membantu kami untuk mengenal lebih dalam teman-teman baru kami. Pertanyaan yang lucu adalah "what was the most romantic experience that you have ever done/experienced?" Banyak yang ketawa dan bilang "How about none?"

Salah satu pertanyaan dari Speed Date
Salah satu sesi paling seru adalah membuat pertanyaan untuk diajukan kepada Dalai Lama. Jadi kami dibagi menjadi beberapa kelompok kecil dan membuat satu pertanyaan yang kira-kira dapat ditanyakan kepada Dalai Lama. Setelah itu kami pun voting. Pertanyaan kelompok saya masuk 2 besar, tetapi sayangnya tidak terpilih.

Pertanyaan dari kelompok kami untuk Dalai Lama
Dan tiba waktunya untuk makan siang. Sambil makan kami juga lalu bercerita. Saya kebetulan bercerita bersama satu orang cewek Maroko-Indonesia yang tinggal dan besar di Arab, satu cewek Peru, dan satu cewek Norwegia mengenai kehidupan di Arab bagaimana (kami semua penasaran bagaimana ketatnya peraturan tentang perempuan di sana, seperti (menurut yang cewek tersebut - namanya Lamees - katakan) kalau perempuan membawa mobil akan masuk penjara meskipun tidak ada sama sekali peraturan mengenai hal tersebut. Setelah itu percakapan berlanjut ke Charlie Hebdo, and how the society reacted about that. Dan percakapan berlanjut ke rasisme. Ada banyak yang kami ceritakan, dan saling bertukar informasi, dan saya sangat senang berdiskusi dengan mereka karena semuanya open-minded. 

Setelah itu, tiba waktunya untuk membicarakan sesuatu yang serius : Corruption. Kami membuat brainstorming dan mencatat kata-kata yang berhubungan dengan Corruption and Governance seperti : bribe, embezzlement, nepotism, collusion, health, survival, money laundry, poverty, media, tax and income, development, gap gender, abuse of power, dan lain-lain. Setelah itu kami berusaha untuk mendefinisikan korupsi, dan perdebatan (atau diskusi) berjalan sangat seru dan menyenangkan.

Saya ingin mengulangi beberapa pertanyaan yang muncul pada saat diskusi kepada kalian. Apakah sebenarnya korupsi? Abuse of power? Sogokan? Apakah korupsi harus dilakukan bersama, atau bisa dilakukan sendiri? Tindakan mana yang termasuk korupsi? Apakah ketika orang tua saya kenal dekat dengan seorang dokter, lalu saya tidak perlu antri untuk masuk menemui dokter tersebut, disebut korupsi? Apakah memberikan hadiah kepada dokter saya karena telah membantu saya termasuk korupsi? Apakah membayar lebih agar visa saya segera selesai, termasuk korupsi?

Silahkan jawab pertanyaan tersebut. Dari hasil diskusi kami pun terdapat banyak jawaban, misalnya ada yang berpendapat bahwa korupsi itu sesuatu yang melibatkan uang negara, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa sendiri pun kita bisa korup. Salah satu pembahasan yang paling seru adalah tentang pengurusan visa. Jadi di beberapa negara terutama di Afrika, untuk mendapatkan visa, kalau mau visanya cepat jadi, mereka harus membayar lebih ke petugas imgrasi. Menurut kalian, apakah ini termasuk tindakan korup? Dari workshop kami ada yang mengatakan bahwa tindakan tersebut tidak korup, tetapi ada juga yang mengatakan hal tersebut korup dikarenakan ada yang salah dari sistem tersebut. Seharusnya - jika waktu pembuatan visa adalah 3 minggu, dan orang tersebut (dengan membayar lebih) mendapatkannya dengan waktu kurang dari 3 minggu - sistem tidak mengizinkan hal tersebut terjadi.

Setelah diskusi tersebut selesai (atau dipaksa selesai karena waktu udah kurang), kami lalu main ha-hi-hu (semacam ping pong pang) groupfie, lalu bersiap-siap untuk menuju tempat makan malam di kantin universitas. Perjalanan ke sana berlangsung sekitar 10-15 menit dengan jalan kaki, dan kami sempat melewati gedung yang mirip dengan Hogwarts, bahkan katanya inspirasi Hogwarts datang dari gedung tersebut. Setelah makan malam, saya pun lalu pamit pulang dan berjalan ke bus stop terdekat untuk menuju rumah. Saya mempunya wakti 1,5 jam untuk bersiap-siap untuk opening ceremony, dan kami diharuskan memakai baju formal atau baju tradisional. 

groupfie lagi :D
otw tempat makan
kayak Hogwarts kan?
Postingan selanjutnya adalah mengenai opening ceremony. Stay tune!

0 komentar:

Posting Komentar