A blog of everyday life and traveling experience.

Jumat, 29 Januari 2021

Second wave pandemi di Jerman: sebuah cerita

 Hallo!

Setelah postingan saya mengenai kehidupan di Jerman bulan maret lalu, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan cerita dari sebelum second wave, second wave, pengalaman saya mempersiapkan kepulangan ke Indonesia, pengalaman di Indonesia, persiapan balik ke Jerman, hingga tiba di Jerman lagi.  Sejujurnya, saat menulis pengalaman yang lalu, saya tidak habis pikir ternyata Corona ini masih belum berlalu di awal tahun ini. 

Rekap dari postingan lalu: setelah lockdown kurang lebih 6 minggu, kehidupan di Jerman akhirnya mulai normal kembali. 

(see the wave?)
sumber: google "coronavirus deutschland"


Kehidupan setelah Lockdown pertama

Setelah sedikit demi sedikit kehidupan mulai normal, harapan pun tiba. Pegawai-pegawai contractor di kantor yang lalunya harus diberhentikan akhirnya dipekerjaka, toko-toko mulai dibuka, dan yang terpenting: sebentar lagi liburan musim panas. Saya pun sempat senang karena Jerman dapat menghandle situasi ini dengan baik. Angka yang terinfeksi pun tiap harinya dibawah 1000. Peraturan kesehatan tetap diberlakukan, masker harus digunakan di tempat umum, orang-orang harus tetap menjaga jarak. 

Saya sendiri sempat menjadi "tersangka" kasus Corona dikarenakan saya sempat demam dan ada rekan kerja yang terkena. Dokter saya lalu merujuk saya untuk melakukan tes. Hasilnya sangat cepat, bahkan kurang dari 24 jam. 

Dalam hal travelling, Robert-Koch-Institut mengeluarkan daftar negara yang termasuk "daerah beresiko" (dapat dilihat di sini). Di mana wisatawan yang masuk ke Jerman dari negara sini harus melakukan karantina 14 hari ketika masuk tetapi karantina tidak diharuskan jika sebelum masuk (atau sesaat setelah mendarat) sudah memiliki hasil tes corona negatif. Saya masih tidak memutuskan untuk pulang ke Jerman karena "ingin menunggu situasi lebih baik aja akhir tahun nanti"

Oleh karena peraturan yang "agak ribet" itu, banyak masyarakat Jerman yang memilih untuk melakukan liburan domestik. Saya termasuk salah satunya. Pada tiap bulannya, saya setidaknya pergi short trip ke satu atau lebih kota, mengunjugi teman-teman saya yang pertemuannya sempat tertunda dikarenakan oleh lockdown. 

Intermezzo: Foto liburan

 
(Juni 2020, Hamburg)


(Juni 2020, Berlin)

 
(Juli 2020, Frankfurt)                                               (Juli 2020, Stuttgart)

 
                                   (Juli 2020, Heidelberg)                                                                       (Juli 2020, Black Forrest)  

Hingga saat September 2020, jumlah orang yang terdeteksi positif mulai naik. Dari dibawah 1000, perlahan naik all the way to 10.000 kasus di bulan Oktober. Saya sempat pergi mengunjungi teman di kota lain pada pertengahan Oktober, dan pada saat itu diberlakukan peraturan bahwa hotel tidak dapat menerima turis jika kota tempat tinggalnya memiliki insiden lebih dari 50/100.000 kasus. Pada saat awal liburan, kota saya masih berada di angka 25, tetapi pada saat pulang sudah hampir menembus 50. Di tengah liburan juga, di Bayern (Bavaria) menerapkan peraturan untuk wajib memakai masker di tempat umum terbuka, bukan hanya untuk di dalam saja. Saya sempat mengupdate status keadaan saat itu bagaimana di instagram saya (jika minat, dapat di tonton di sini)


(Agustus 2020, Nürnberg)                                                                     (Agustus 2020, Leipzig)


(September 2020, Düsseldorf)                                 (Oktober 2020, Aachen)

(September 2020, Haltern am See)

(Oktober 2020, Füssen)

Angka menembus 25.000 pertama kalinya pada tanggal 2 November 2020. Pemerintah sudah mulai was-was dan akhirnya, pada tanggal 2 November diberlakukan beberapa peraturan baru. Kami di sini menyebutnya "lockdown light/partial lockdown" yang akan diberlakukan untuk 1 bulan (hingga pertengahan Desember). Tujuan dari partial lockdown ini adalah agar masyarakat Jerman dapat menikmati liburan natal dan tahun baru bersama keluarga. 

Lockdown light:

Pembatasan yang berlaku:

  • Restaurant dan bar tutup, kecuali untuk takeaway (dan delivery)
  • Acara-acara besar dibatalkan
  • Perjalanan yang tidak penting sangat tidak disarankan
  • Tidak diperbolehkan untuk menginap di hotel dengan tujuan wisata
  • Disarankan untuk Work From Home
  • Untuk bertemu dipublik, hanya diperbolehkan dua rumah tangga  dengan maksimal 10 orang
  • Bioskop, teater, harus tutup. 
  • Tempat rekreasi publik seperti gyms, sauna dan kolam renang harus tutup. 
  • Tidak boleh ada keramaian pada acara olahraga (nonton online)
Yang tetap diperbolehkan:
  • Sekolah dan TK tetap buka
  • Acara keagamaan dan demonstrasi tetap diizinkan
  • Pnati jompo tetap dapat menerima tamu pengunjung
  • Toko tetap dibuka, akan tetapi untuk 1 customer per 10 kuadrat meter (artinya, jika tokonya 100 meter persegi hanya bisa menerima 10 customer untuk waktu yang bersamaan)
  • Batas negara tetap buka
Peraturan untuk wisatawan yang balik dari negara beresiko:
  • Harus mendaftar diri secara digital
  • Melakukan karantina selama 10 hari (yang awalnya 14 hari diubah menjadi 10)
  • tetapi bagi sebagi Bundesland (Provinsi), negatif test saat masuk ke Jerman tidak membuat wisatawan tsb bebas dari kewajiban karantina
  • Karantina dapat diperpendek menjadi 5 hari jika pada hari ke 5 dilakukan PCR test dan hasilnya negatif
Gimana untuk usaha-usaha yang akan tutup saat lockdown light ini?
Angela Merka menjanjikan pada usaha yang terpengaruh oleh peraturan baru ini akan dikompensasi. Perusahaan yang memiliki pegawai sampai 50 orang dan wiraswasta menerima 75% dari gaji mereka dalam bentu support. 

Selama 1 bulan November ini, menurut saya pribadi, tidak ada perubahan yang terlalu drastis, kecuali tidak bisa nongki-nongki cantik bareng teman di akhir minggu ataupun saat kerja. Untuk itu, saya malah jadinya lebih hemat uang makan karena lebih prefer untuk masak sendiri hehehe. Pemerintah tetapinya tetap mewanti-wanti, apalagi Black Friday yang akan terjadi di akhir November. 

Yang membuat saya agak resah adalah peraturan jika libur dari negara berisiko, harus karantina minimal 5 hari saat kepulangan. Saya berencana akan pulang ke Indonesia pada akhir tahun, dan dikarenakan hal ini, saya harus menambah libur saya selama 1 minggu dengan alasan akan melakukan karantina di rumah. Pekerjaan saya sendiri bukanlah tipe yang bisa WFH dan dikarenaka masalah perpajakan, kami tidak diperbolehkan bekerja di luar Jerman (ga bisa jadi digital nomads yang lagi trend saat ini, hehehe).

Sebelum "Lockdown Light" berakhir

Ternyata, langkah-langkah yang telah dilakukan selama hampir sebulan tidak sebegitu efektif yang diharapkan. Angka-angka tidak kunjung turun, bahkan pada tanggal 25 November 2020, angka menembuh 30 ribu untuk pertama kalinya. Pemerintah lalu menerapkan beberapa peraturan baru:
  • Larangan untuk mengkonsumsi minuman alkohol di atas jam tertentu
  • "Jam malam" untuk kota dengan insiden 200/100.000 kasus positif dalam 7 hari terakhir
  • (mungkin ada peraturan lain juga yang saya lupa) 
Pada akhir bulan November, peraturan lockdown light ini diperpanjang hingga pertengahan desember, dengan harapan bahwa pada pertengahan desember, jumlah kasus menurun dan masyarakat dapat menikmati liburan natal dan tahun baru bersama keluarga dan teman. 

Sebelum "Lockdown Light KEDUA" berakhir

Angka tidak menurun juga, bahkan rata-rata kasus selama 7 hari terus meningkat. Kalau dari pengalaman sih, peraturan kayak gini banyak yang PHP ya, hehehe. Berharap bakal selesai pertengahan Desember, tetapi malah diperketat. Mulai dari 16 Desember 2020 - 10 Januari 2021 diberlakukan peraturan yang jauh lebih ketat:
  • Semua toko harus TUTUP! (pengeculian restaurant take away dan delivery, supermarket, drug store, dan yang essential) 
  • JAM MALAM diberlakukan. Ini tergantung bundesland, dan di Bundesland saya diberlakukan. Penduduk dilarang untuk berkeliaran dan meninggalkan rumah dalam rentang waktu pukul 8 malam hingga 5 pagi. Diadakan pengecualian untuk beberapa kasus, misalnya alasan kerja. 
  • Sekolah dan TK diliburkan
    • Nah, ini sebenarnya yang jadi banyak dilemma. Saya sendiri sempat mengeluh, kenapa pemerintah tidak menutup sekolah aja dari awal dan melaksakan proses pembelajaran daring seperti yang Indonesia lakukan (apalagi di sini "kata"nya teknologi lebih canggih). Saya mengajak berdiskusi salah satu kolega di tempat kerja dan dia berkata hal ini susah terutama untuk orang tua yang harus bekerja. Anak-anak dibawah 12 tahun tidak boleh ditinggalkan di rumah sendiri, yang membuat ada minimal satu orang tua yang harus tinggal di rumah untuk mengurus anak. Dan rekan saya berkata, bahwa tidak segampang itu melakukan WFH dan mengurus anak secara bersamaan. Apalagi jika kedua orangtua tidak bisa melakukan WFH, itu berarti ada salah satu orang tua yang harus berkoban untuk menggambil unpaid leave atau cutinya untuk mengasuk anak. 
  • Jasa-jasa, misalnya jasa pijit dan salon juga harus tutup dikarenakan kontak yang sangat erat dengan pengunjung. 
  • Acara keagamaan tetap dapat dilaksanakan tetapi harus dengan jarak minimal 1.5 meter, harus menggunakan masker, dan untuk acara gereja, menyanyi bersama ditiadakan.
  • Perusahan-perusahaan diminta untuk menjalakan motto "Stay at home", dan ini lumayan ketat dilaksanakan, setidaknya oleh kantor saya. Setiap Jumat saya harus menghadiri meeting penting, dan yang biasanya tetap hadir semua dengan jarak, pada waktu itu hanya diizinkan maximal 8 orang di dalam ruangan.
Nah, tapi karena natal sudah dekat nih, diberlakukan beberapa pengecualian yang diberlakukan pada tanggal 23 Desember 2020 - 26 Desember 2020:
  • Pertemuan dengan 4 orang lain dari keluarga terdekat (atau teman) selain yang tinggal satu rumah di perbolehkan. (peraturan awal hanya boleh dengan 2 orang lain!)
Permasalahan dengan peraturan baru ini adalah peraturan tsb dikeluarkan sesaat sebelum natal, di mana adalah masa orang pada keluar untuk beli hadiah natal. Saya ingat, 1 hari sebelum Lockdown di mulai, mall dekat kantor saya sangat FULL hingga harus mengantri masuk (dan antriannya ga main-main, bisa sampai 2 jam berdiri). 

Kembali Lockdown

Perasaan yang saya rasakan agak sedikit suram, karena suasana kembali menjadi "kota mati". Saya tetap kerja dari kantor seperti biasa, dan saya dapat melihat perubahan drastis. Yang biasanya saya satu bus dengan anak-anak sekolah, busnya malah hampir kosong. Stasiun kereta pun sudah tidak banyak orang. Polisi-polisi juga semakin memperketat pemeriksaan pemakaian masker. Tetapi semua dengan harapan bahwa angka akan turun. 

Setelah kembali lockdown lagi, saya disibukkan dengan kerja dan mengepak barang untuk dibawa pulang ke Indonesia. Di postingan berikutnya saya akan menceritakan pengalaman saya travelling di tengah pandemi. 

Stay tune, and thanks for reading!

sumber data:
  • https://www.dw.com/en/coronavirus-germany-to-impose-one-month-partial-lockdown/a-55421241
  • https://www.baden-wuerttemberg.de/de/service/alle-meldungen/meldung/pid/bund-und-laender-einigen-sich-auf-lockdown-ab-16-dezember/

Sabtu, 02 Mei 2020

Hidup di Jerman selama pandemi.....


Halo semua!

Akhirnya setelah sekian lama tidak menulis, saya ingin berbagi cerita tentang kisah anak rantau dari awal berkembangnya Covid-19 hingga saat ini. Saya rasa banyak lesson learned yang kita bisa pelajari dari Jerman. Perlu diperhatikan kalau saya bukan expert, dan yang saya tulis dibawah ini berdasarkan dengan pengalaman dan pantauan saya pribadi :) 

Akhir Februari
Seingat saya, pertama kali penderita COVID-19 dideteksi pas akhir januari. Pada saat itu di Jerman masih santai-santai aja, cuman perusahaan tempat ybs di home-officekan karena sudah ada beberapa pegawai (dan keluarga pegawai) yg ikut tertular. Saya pergi ke Aachen dalam rangka business trip tgl 27 Februari. Di situ jumlah penderita sudah mulai naik (sekitar 50an) dikarenakan adanya acara Karnaval dimana banyak orang yg berkumpul dalam keramaian. 1 kota di dekat Aachen, Heinsberg, mengakarantinakan 1000 penduduknya dan termasuk dalam zona merah.

Reaksi orang-orangpada saat itu sudah mulai sedikit lebih panik, tetapi kehidupan masih berjalan seperti biasanya. Kalau boleh jujur, saya waktu itu masih menyepelekan dan tidak terlalu aware (masih berpikir, ah, jumlah penderita masih sedikit. Penduduk Jerman kan 80juta orang). Beberapa orang sudah mulai panic buying, tetapi saat itu masih menjadi hal tertawaan (dilihat dari habisnya tissue toilet, pasta hingga tepung karena katanya kalau roti sudah habis, rotinya bisa buat sendiri).


confirmed case 27 februari: 46 orang

Awal Maret
Saya kembali ke Stuttgart dengan tenang dan kehidupan masih berjalan seperti biasa. Perjalanan bisnis berikutnya ke Aachen sudah ditentukan (20 maret) dan saya sangat yakin bahwa tidak akan ada masalah dan saya masih bisa ke Aachen. Saya juga sudah merencakan bersama teman-teman saya untuk liburan singkat pada weekend setelah business trip saya. Hotel sudah ditentukan, ruang karaoken sudah di booked (di Jerman jarang soalnya yang ada hahaha), rencana perjalanan sudah mantap. Saya bahkan masih sempat pergi ke konser pada tanggal 8 maret!
confirmed case 8 maret: 1000 orang

Pada tanggal 14 maret, jumlah confirmed case meningkat pesat menjadi 4600 orang. Orang-orang sekitar sudah mulai panik, tetapi belum ada kebijakan dari pemerintah. Belum ada toko yang tutup. Pada weekend itu saya bersama teman saya janjian ketemu di Stuttgart untuk makan siang, dan kami sudah bisa melihat bahwa untuk hari sabtu, pusat kota Stuttgart sudah sangat sepi. Restaurant fast-food five guys yang biasanya harus antri sampai 2 jam, kami hanya perlu mengantri 10 menit.


Asia-Shop yang biasanya selalu rame
Pertengahan-Akhir Maret
Pada tanggal 16 Maret, perusahaan saya sudah memberitahukan policy WFH. Tetapi karena nature pekerjaan saya yang kebanyakan harus bekerja on-site pada klien, saya mau tidak mau harus tetap ngantor seperti normal. Pada awal minggu itu, saya sudah melihat pemerintah lokal sudah mulai bergerak dalam mengupayakan pencegahan penyebaran. Di bus, di mana kami biasanya harus masuk dari pintu depan untuk menunjukan tiket sudah di blocked. Penumpang bus hanya bisa masuk lewat pintu tengah atau belakang, dan hanya diperbolehkan untuk berbicara kepada supir bus dalam keadaan darurat. Pembelian tiket hanya bisa dilakukan online, atau melalui bus di beberapa halte bus. Hal ini menurut saya merupakan hal yang cerdas dikarenakan supir bus merupakan tipe pekerjaan yang sangat rentan untuk tertular dan menulari jika dilihat dari jumlah interaksi yang harus dilakukan kepada penumpang (apalagi kalau banyak yang membeli tiket). 

Di kantor klien pun saya masih melihat kalau mereka belum memperlakukan kebijakan WFH pada hari senin (saya harus menelfon beberapa orang untuk menanyakan policy saya sebagai external, tetapi dari mereka tidak ada yang berubah). Tetapi pada hari rabu, saya ditelfon dan diberitahukan kalau ingin ke sana harus "diizinkan" dulu karena hanya yang diperbolehkan yang bisa kerja langsung dari sana. Hal ini menurut saya juga sangat cerdas, karena jika worst case ada yang kena, ODP akan lebih gampang dilacak. Hari ini sudah sangat jelas kalau perjalanan saya ke Aachen harus batal.

Saya sudah mulai parno bakalan kehabisan bahan makanan, dan memutuskan untuk langsung ke supermarket setelah kerja untuk belanja keperluan makanan yang cukup untuk beberapa hari kedepan untuk meminimalisirkan keluar rumah. Di supermarket, toilet paper, pasta, beras roti, teruga, saus pasta sudah habis. Tetapi sebagai anak Indonesia, tentunya saya tidak terlalu khawatir karena untuk worst case, persediaan Indomie masih ada (hehe, jarang makan soalnya). Di mall tsb tempat saya belanja, semua toko masih buka, kecuali apple store. 

Pada hari ini ibu Angela Merkel menggelarkan konferesi pers dan meminta warga Jerman tetap untuk solid. Saya mengutip perkataan beliau, "Tidak pernah kita diminta untuk solid seperti ini sejak perang dunia dan hari persatuan Jerman Barat dan Timur." Beliau juga menjamin bahwa kita di Jerman tidak akan kehabisan bahan makanan, dan menghimbau agar warga tidak menimbun makanan. Tidak lupa juga beliau mengucapkan terima kasih kepada pegawai-pegawai supermarket. Videonya bisa dilihat di sini: (bahasa Jerman) 
confirmed case 16 maret: 7.300 orang

Tanggal 17 maret, saya jalan-jalan sore di sekitar rumah (tentunya dengan jaga jarak), taman bermain untuk anak-anak masih buka. Masih banyak yang nongki-nongki cantik di restaurant dan cafe-cafe lokal. Dari kantor, mereka juga meminimalisirkan jadwal saya untuk harus kerja langsung di sana, dan akhirnya saya juga mengikuti sebagian besar orang yang WFH (dengan jadwal yang jelas kapan saya harus kerja di kantor)
confirmed case 17 maret: 9.300 orang

Tanggal 18 maret, saya jalan-jalan sore lagi (tipe pekerjaan saya harus banyak bergerak kesana kemari soalnya, jadi  masih dalam tahap pembiasaan diri untuk duduk banyak depan laptop dan ngoding), dan taman bermain yang kemarin masih buka sekarang sudah tutup.
confirmed case 18 maret: 12.300 orang

Tanggal 20 maret, pemerintah akhirnya menerapkan kebijakan PSBB (di sini namanya Ausgangbeschränkungen, tapi untuk lebih gampangnya saya sebut PSBB saja) untuk seluruh Jerman (beberapa Bundesland sudah menerapkan ini beberapa hari sebelumnya). Peraturan ini dibuat untuk membatasi ruang pergerakan untuk meminimalisirkan penyebaran CoVID-19. 


  1. Semua restaurant harus tutup, kecuali yang menyediakan layanan take-away atau delivery.
  2. Semua tempat wisata tutup (museum, hotel, park dkk) 
  3. Semua toko kecuali supermarket, apotik dan drogerie store harus tutup (jasa seperti praktik dokter atau tukang masih tetap berjalan)
  4. Larangan untuk berkumpul lebih dari 3 orang di tempat umum, pengecualian yang tinggal bersama (keluarga, atau teman kontrakan misalnya). Olahraga (sendiri) dan jalan-jalan sore untuk udara segar diperbolehkan. -> ini dendanya bisa sampai 400 juta rupiah kalau melanggar
  5. Tidak boleh mengadakan pesta (maupun privat). Hanya dibolehkan melayat jika yang meninggal keluarga dekat
confirmed case 20 maret: 19.300 orang

Tanggal 21 maret, saya harus belanja lagi dikarenakan stok makanan sudah habis (indomie hanya akan digunakan kalau memang sudah tidak bisa keluar hehehe). Di mall tempat saya belanja (soalnya sudah hafal layout supermarketnya), setiap orang yang ingin masuk di mall akan ditanyakan keperluannya apa (kalau ga penting dan hanya ingin jalan-jalan saya dilarang masuk). Mall yang biasanya hidup sudah kayak kota mati. Yang buka hanya supermarket dan drogerie store. 

Pelajaran yang sampai tanggal tersebut saya dapat adalah: jangan menyepelekan. Saya termasuk kategori orang yang menyepelekan di awalnya dan termasuk santai. Tetapi inilah hasil dari banyak yang menyepelekan. Dalam sebulan jumlah meningkat pesat. Dari saya pribadi, saya merasa akhir maret itu seperti "darkest hours" untuk di Jerman. Banyak bisnis yang kesusahan bahkan sampai bangkrut dikarenakan tidak diperbolehkan untuk beroperasi.

Pemerintah di Jerman (lokal maupun nasional) sangat berupaya keras untuk tetap menjalankan ekonomi rakyatnya. Setau saya (dari baca-baca), untuk perusahaan kecil dengan batas pegawai tertentu dapat apply untuk mendapatkan bantuan langsung (bukan pinjaman) sekitar 150-300juta rupiah. Untuk pekerja yang terpaksa tidak bisa bekerja (misalnya pekerja pabrik), perusahaan mereka bekerja sama dengan pemerintah lokal untuk menerapkan "kurzarbeit" (kerja singkat) di mana meskipun pegawai tsb hanya bisa bekerja sedikit (atau bahkan tidak bisa sama sekali), pemerintah kota tetap akan menggaji sekitar 60% dari total gaji bulanan. Saya rasa sesuai kebijakan perusahaan masing-masing dan tidak semua perusahaan menerapkan ini. Lebih lengkapnya mengenai apa itu "kerja singkat" bisa dibaca di sini.

Komunitas juga bersatu untuk membantu orang-orang yang termasuk dalam "risk group", terutama lansia, misalnya dengan membantuk mereka untuk belanja di supermarket supaya mereka tidak harus keluar rumah. Beberapa toko-toko lokal seperti bakery juga mengadakan free delivery khusus untuk lansia. (Kudos!!!!)

Saya menghabiskan kebanyakan waktu di rumah, dan seperti kebanyakan orang lainnya, mengisi BINGO di instagram (wkwkwkw). Pada akhir bulan saya harus kerja dari kantor 1-2 hari, dan saya dimana-mana saya melihat sangat jarang orang. Bus pun serasa mobil pribadi karena biasanya tidak ada penumpang lain selain saya. 
confirmed case 21 maret: 21.200 orang
30 maret: 66.900 orang

Awal April - the new "normal"
Saya rasa pada awal bulan april ini kebanyakan orang-orang sudah mulai menyesuaikan dengan keadaan PSBB yang sudah beberapa minggu diberlakukan. Di mana-mana sudah tidak perlu diberitahukan lagi untuk menjaga jarak, di supermarket misalnya, antri sudah mulai otomatis minimal 1.5meter diantara satu sama lain. Tentu saja masih ada yang melanggar peraturan (terutama ABG), tetapi jumlahnya sudah sangat berkurang. Dikarenakan ada long weekend pada Paskah, polisi dengan ketat melakukan pemeriksaan terutama di jalan tol untuk mencegah arus mudik. Saya juga sudah mulai lebih sering dijadwalkan untuk kerja di kantor. Bahasa Jerman saya jadi tidak selancar yang biasa lagi karena jarang berinteraksi dengan manusia (kalau ke kantor kebanyakan ngomongnya sama mobil wkwkwk).

Meskipun it has been a new normal, tetapi tetap saja pertanyaan besar yang hampir ada di setiap orang, "Sampai kapan?"
confirmed case 1 april 77.900 orang
14 april: 130.100 orang

Pertengahan - Akhir April - "Hope is there"
KABAR GEMBIRA UNTUK DUNIA PERKENOMIAN DI JERMAN... Dari tanggal 15 April (akhirnya setelah kurang lebih 4 minggu), peraturan PSBB mulai dilonggarkan, yaitu:

  1. Toko-toko kecil (luas hinggal 800 meter persegi) diperbolehkan untuk buka dengan beberapa peraturan (misalnya, pengunjung dibatasi. Estimasinya 10 meter persegi/pengunjung, jadi kalau tokonya cuma 4x5 meter maks hanya 2 pengunjung di dalam toko teresebut). 
  2. Jadwal bus sudah kembali seperti normal. 
  3. Hotel masih tetap harus tutup. 
  4. Tempat beribadah (mesjid, gereja, sinagog) juga masih tetap harus tutup. 
  5. (Peraturan yang lain, misalnya max kerumunan di tempat umum masih tetap diberlakukan)

Dan mulai tanggal 20 April untuk seluruh Jerman diberlakukan "Maskenpflicht" atau wajib memakai masker jika berada di tempat umum, misalnya ketika belanja, di bus dan di kereta. Masker yang digunakan bisa masker kain, atau apapun yang jelas menutupi mulut dan hidung (misalnya syal). Saya beruntung waktu itu sempat bawa masker 1 pack dari Indonesia dan belum digunakan. Karena harga masker kain di website di sini mahal dan juga karena lockdown di Indonesia dan tidak bisa jasa titip, saya akhirnya membeli masker kain dari orang Indonesia di FJJB PPI Jerman (harga lebih terjangkau, ini sekalian promosi hehehe). 
confirmed case 30 april 163.000 orang

Mei onwards - "Will the condition be better?"
Apakah PSBB di Jerman ini membuahkan hasil? Kalau kita melihat statistik di bawah ini (jumlah daily case), dapat dilihat bahwa setelah beberapa minggu mulai menurun. Tentu saja masih ada kekhawatiran, dan peluang second wave masih sangat tinggi dikarenakan jumlah orang yang keluar rumah sekarang jauh lebih banyak dari sebulan terakhir ini. 


marker merah: PSBB dimulai. marker hitam: PSBB dilonggarkan. marker biru: wajib masker


LESSONS LEARNED


  1. PSBB ITU SANGAT PENTING. Kalau tidak harus keluar rumah, mohon jangan! Kalau bisa WFH, tolong WFH!!!! Saya tau kebanyakan masyarakat Indonesia sangat sosial dan susah untuk tidak bertemu dengan rekannya, tetapi PLEASE TAHAN DULU. Kita beruntung bahwa kita hidup di jaman yang bertemu secara virtual itu gampang. 
  2. JANGAN MENYEPELEKAN.
  3. BANTU SESAMA DENGAN SOCIAL DISTANCING
Semoga tulisan saya kali ini bisa membantu dan terima kasih sudah membaca! 


sumber gambar dan confirmed case:  https://gisanddata.maps.arcgis.com/apps/opsdashboard/index.html#/bda7594740fd40299423467b48e9ecf6


Kamis, 23 Januari 2020

Suka-Duka Kerja di Jerman (part 2)

Setelah 3 bulan (maaf lagi sibuk kerja dan relokasi) akhirnya sempat mengedit lanjutan dari video sebelumnya. Semoga bermanfaat ya!