A blog of everyday life and traveling experience.

Rabu, 19 November 2014

Summer 2014 : Survival (Solo Travelling) in Milan

Halo lagi! (maaf karena postingan ini tertunda sangat lama)

First of all I need to apologize to those who wish to understand the last post but too bad I wrote it in Indonesian. Eigentlich möchte ich auch gerne auf Deutsch oder Englisch schreiben, aber zurzeit schreibe ich noch auf Indonesisch weil das die Sprache die am meistens (meine Facebookfreunde) verstehen können. Also, nach 3-4 Posten, wenn Summer 2014 Serie auf Indonesisch fertig ist, dann schreibe ich auf Deutsch (eine Übung für mich).

Okay, mohon maaf bagi yang tidak mengerti paragraf yang di atas, hehehe .___.v Sekarang mari kita lanjutkan postingan saya yang sebelumnya.

Pada hari kedua saya di Jerman, saya sudah merencanakan jauh-jauh hari sebelumnya untuk pergi ke Milan. Kenapa Milan? Kenapa buka Roma, atau kota yang lain? Jawabannya adalah karena saya tidak punya banyak waktu, dan Milan merupakan kota besar terdekat dengan Swiss, berhubung saya sudah memiliki janji untuk bertemu dengan teman lama di Swiss pada tanggal 25 Juni. Jadi berangkatlah saya pada tanggal 23 Juni 2014 ke Milan dengan naik kereta, rutenya itu :

  • Haltern am See - Düsseldorf
  • Düsseldorf - Basel
  • Basel-Bern
  • Bern-Brig
  • Brig-Milano Centrale
Perjalanan di kereta berlangsung aman dan tentram, tetapi tetap saja saya merasa sedikit deg-degan dan takut dikarenakan ini merupakan pengalaman pertama saya naik kereta antar negara sendirian di Eropa. 4 tahun lalu saya tidak dapat travelling sendirian dikarenakan oleh peraturan AFS, terlebih lagi saya masih berumur 16 tahun. Perjalanan Haltern am See - Milan berlangsung sekitar 13 jam. Saya berangkat pada pukul 9 malam dari Haltern am See, dan tiba di Milan pada pukul 12.30 keesokan harinya.

Tips selama di kereta untuk perjalanan jauh dan harus ganti kereta :
  1. Jangan lupa bawa tiket kereta. Waktu itu saya menggunakan Eurailpass (akan saya jelaskan di postingan yang lain).
  2. Cek baik-baik jadwal perjalanan, jangan sampai ceroboh melihat jam dan tempat (Gleiss/Platfrom) berangkat kereta. Di Eropa keretanya cukup tepat waktu.
  3. Jika harus ganti kereta lebih dari satu kali, bawalah sedikit barang, atau sebisa mungkin satu koper kecil saja, banyaknya barang akan membuat kita membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak.
  4. Bawa buku bacaan, ipod/mp3 player, sediakan powerbank. Di kereta hiburan sangat terbatas, dan jarang terdapat sumber listrik dan internet.
  5. Bawa bantal/travelling pillow, terlebih jika menggunakan night train. Kereta malam akan berjalan lebih lambat dan berhenti beberapa jam di satu stasiun.
  6. Berbicara dengan orang di sekitar. Sekedar tanya mau ke mana dan asal dari mana. Setidaknya tidak merasa terlalu kesepian.
Teddy setia menemani
Pada saat memasuki Swiss, saya sangat senang dikarenakan saya tidak pernah ke Swiss sebelumnya. Tetapi di Basel, Bern, dan Brig saya tidak mempunyai banyak waktu untuk melihat ke sekeliling kota jadinya saya hanya berkeliaran di sekitar stasiun saja. Di Bern saya menyempatkan diri untuk ke ATM dan menarik uang, di Swiss mereka tidak menggunakan Euro melainkan CHF. Satu Euro kurang lebih 15-16rb rupiah, dan satu CHF kurang lebih 13rb rupiah.

Kereta terakhir adalah kereta dari Brig menuju Milano Centrale. Saya kurang beruntung di kereta ini dikarenakan kondisinya sangat rame, untungnya dengan menggunakan Eurailpass, saya sudah memesan tempat duduk sebelumnya, sehingga saya tidak harus berdiri sepanjang perjalanan. Sisa perjalanan saya gunakan untuk tidur.

Dan akhirnya... tibalah saya di Milan! Akhirnya saya pernah menginjak Italia! Saya sangat senang pada saat turun dari kereta, tetapi sekaligus merasa takut. Ini pertama kali saya benar-benar sendiri di negara orang, dan terlebih lagi orang-orang di sini tidak berbicara bahasa Jerman, melainkan bahasa Italia. Dan bahasa Inggris mereka pun tidak bagus-bagus amat. Saya lalu memutuskan untuk mengganti baju saya di kamar mandi terdekat, dan segera mencari cara untuk membeli Milano Card. Saya telah browsing sebelumnya dan mendapat info bahwa dengan Milano Card sudah termasuk tiket metro/bus dalam Milan untuk 24 jam, dan diskon di beberapa toko. Awalnya saya salah tempat menuju mesin tiket kereta, tetapi akhirnya setelah bertanya-tanya dan berkeliling (stasiun Milan sangat besar dan memusingkan) saya akhirnya dapat tempat membelinya, dengan harga €7. Dengan menggunakan google maps, saya lalu pergi ke hotel dengan menggunakan metro.

Hotel telah saya booking jauh hari sebelumnya melalui agoda, sebenarnya di manapun saya tidur tidak menjadi masalah, tetapi orang tua saya melarang saya untuk menginap di hostel (meskipun murah), dikarenakan banyak hostel yang campur atau laki-laki dan perempuan,dan juga tingkat keamanan lebih rendah dibandingkan dengan hotel. Akhirnya saya mendapatkan hotel dengan kamar sendiri dan harga yang lumanya (sekitar 400-500rb) bernama hotel Ambrosiana, di Via Plinio, Milan. Hotelnya (menurut Agoda bintang 3), dan ada beberapa review negatif mengenai hotel itu, tetapi saya sangat puas. Kamarnya bersih, dan wifinya bekerja dengan baik. Sarapannya sangat sederhana, tetapi tidak apa-apa. Kamar mandinya sharing jadi satu kamar mandi digunakan untuk beberapa orang.

Let the adventure begins!
Tempat masuk hotel


Pada saat check in saya cuma harus menunjukkan paspor saya, saya lalu diarahkan menuju kamar saya. Oh iya, hotel tersebut berada di lantai 3 apartemen jadi sangat disarankan untuk membawa barang seadanya dikarenakan tidak adanya lift. Setelah sampai di kamar saya lalu bersiap-siap untuk memulai petualangan saya di Milan, berhubung saya hanya mempunyai waktu kurang dari 24 jam.

Tujuan pertama saya : DUOMO! Saya telah browsing jauh-jauh hari sebelumnya tentang tempat yang harus dikunjungi di Milan, dan Duomo is on the top list. Dengan menggunakan google maps dan peta metro, saya lalu berjalan kaki menuju statisun metro terdekat (Lima), untuk menuju ke Duomo. Nah di sini saya memiliki pengalaman unik sekaligus sedikit mengerikan. 

Seorang pemuda sekitar 20 tahun jalan mendekati saya dan berkata "Do you speak English? I want to go to Duomo but I don't know which way I should go?" Dengan bodohnya saya lalu berkata kalau saya juga ingin ke sana dan saya menunjukkan jalur mana yang harus dia ambil. Saya lalu mengeluarkan handphone saya, dan cowok itu (namanya lupa) meminjam hape saya. Dengan tololnya saya meminjamkannya. Dia lalu dengan asyik memakai handphone saya untuk facebookan sementara saya dengan sangat waspada berdiri di sampingnya dan bersiap untuk mengejarnya jika ternyata dia pencopet. Tetapi pada akhirnya dia mengembalikan hape saya (plus selfie) lalu pergi tanpa mengucapkan terima kasih. Seriously?

Selfie with stranger!


Hello DUOMO!

Kesal saya berhenti dengan cepat dikarenakan saya tiba di Duomo. Finally, akhirnya saya tiba disini! Disaat saya sedang asyik memotret sekitar, seorang pria lalu datang menghampiri saya dan menaruh jagung di tangan saya, dan otomatis semua burung yang ada di sekitar situ datang menghampiri saya. Saya sudah menolak kepada orang tersebut, tetapi dia tetap memberikan tangan saya jagung. Dia menawarkan untuk memfoto saya tetapi saya tidak mau, karena takut hape saya dicopet. Dan tau apa yang terjadi setelah itu? Laki-laki itu lalu meminta bayaran, dan bayarannya juga €20 -_- Katanya untuk orang biasa harganya €100, tetapi karena saya dari Indonesia jadi €20 saja, tetapi setelah tawar menawar (dan saya cukup kesal karena ditipu dan dijebak) saya akhirnya hanya membayar €10. Tetapi di saat saya meminta untuk difotokan, teman pria tersebut datang dan memberikan saya jagung lagi dan pada akhirnya meminta bayaran juga -_- Bayangkan betapa kesalnya saya kehilangan €20 di jam pertama saya di Milan.

Jagungnya mahal loh wkwkwkw :v


Foto €20 T_T

Setelah membayar, saya pun berjalan di sekeliling duomo, menyempatkan diri membeli gelato dan postcard, lalu berjalan-jalan lagi. Tetapi dikarenakan baterai hape saya sudah hampir habis (dan saya tidak membawa camdig, jadi hape merupakan satu-satunya sumber kamera saya), saya lalu balik lagi ke hotel untuk mengcharge handphone saya satu-dua jam sambil merencakan kemana saya akan pergi. Saya awalnya mau pergi ke stadiun San Siro tetapi karena sudah agak sore (takutnya tutup) saya lalu pergi jalan-jalan di sekitar kota saja. Dan, sebelum memasuki metro saya lalu sadar tiket saya hilang dan saya harus membeli ulang (untungya harganya cuma €4.5 yang berlaku seharian). Sebelum jalan-jalan saya kembali ke Milano Central untuk membooking tempat duduk untuk perjalan saya ke Swiss. Setelah jalan-jalan di beberapa tempat, saya ingin pulang tetapi hujan deras. Dan bodohnya saya melupakan payung saya di hotel. Saya lalu menunggu hujan reda dan mengambil bus dengan rute menuju Milano Central karena saya tidak hafal jalan pulang. Tetapi untungnya saya mengingat jalanan sekitar hotel saya dan turun pas di depan hotel.

Gelato, everyone?


Dikarenakan perut lapar hampir kehujanan dan berjalan kaki dalam waktu yang lumayan lama, saya lalu mencari tempat makan di sekitar hotel, dan akhirnya mendapat tempat makan yang cukup hangat dan nyaman (sayangnya lupa nama tempatnya). Saya lalu memesan pizza tuna dan segelas coca-cola, dan membayar €15 setelah makan. Setelah itu saya lalu pulang dan tidur.

Pizza for dinner!

Paginya saya bangun pukul 5 karena saya ingin secepatnya ke tempat yang belum sempat saya datangi. Saya lalu menyimpan barang saya di Milano Centrale (€5/koper) lalu pergi ke San Siro. Sayangnya hujan dan saya hampir di kejar anjing. Harga untuk masuk ke museum San Siro lumyan mahal (€16), dan dikarenakan saya tidak punya banyak waktu saya tidak sempat mengikuti turnya. Tetapi saya lumanya senang dapat mengunjungi stadion tersebut, dan saya dengan terburu-buru kembali ke Milano Centrale, mengambil barang yang saya titipkan, dan segera menuju ke kereta. Hampir saja saya ketinggalan kereta (untungnya tidak).

San Siro!


Tips ketika sendirian/grup di Milan:
  1. Berhati-hatilah dengan orang sekitar, apalagi di sekitar Duomo. Banyak pencopet, penipu, dan lain-lain sebagainya.
  2. Minimalkan membawa uang cash. 
  3. Berpakaian layaknya seperti turis biasa, tidak usah dandan berlebihan,semakin bermerek barang-barang maka semakin tertarik pencopet dkk mendekati.
  4. Beli kartu kereta untuk satu hari, 2 hari (tergantung berapa lama di sana). Milano Card tidak saya sarankan untuk yang bepergian waktu singkat.
  5. Sediakan peta metro di kantung, atau google maps selalu on jika anda terlalu malu untuk bertanya arah.
  6. Sedia payung sebelum hujan (tergantung musim)
Biaya yang saya habiskan selama saya di milan selama sehari tidak melebihi €100.

Dan itulah cerita mengenai perjalanan saya di Milan. Next post will be about my adventure in Switzerland! Stay in touch and thanks for reading!

Rabu, 30 Juli 2014

Summer 2014 : The beginning

So hello!

Akhirnya setelah hampir satu tahun saya menemukan sesuatu yang bisa ditulis. Jadi dalam beberapa postingan berikutnya kalian akan membaca beberapa cerita saya selama di Eropa. 

Alhamdulillah setelah gagal buat visa tahun lalu dikarenakan telatnya Verplichftungserklärung yang datang dari Jerman, tahun ini saya berhasil mendapatkan visa Schengen! Rasanya seperti dream comes true, akhirnya saya bisa balik lagi ke rumah kedua setelah 3 tahun lamanya. Meskipun mepet dengan waktu liburan semester genap (UAS selesai tanggal 13 Juni, balik ke Makassar tanggal 16 Juni, ke Jakarta tanggal 21 Juni), semua persiapan dapat diselesaikan.

Waktu di Makassar sangat mepet karena banyak hal yang harus dipersiapkan, mulai dari packing dkk dkk. Meskipun saya sangat suka dengan travelling, tetapi hal yang paling saya tidak suka adalah packing dan unpacking. Akhirnya saya dibantu oleh adik saya untuk mengepack barang-barang. Setelah 2 hari sibuk mengepack barang, siaplah 20kg koper besar dan 3kg koper kecil. Oh iya, sehari sebelum perjalanan, tanggal 20 Juni, gigi saya dioperasi karena impaksi.

Ready for the flight. Pipi kiri masih bengkak tapinya, haha.

First Flight : Makassar - Jakarta

Total perjalanan kurang lebih 24 jam. Perjalanan saya dimulai dari Makassar, dengan pesawat Lion Air kira-kira pukul 7 malam. Sayangnya saya harus membayar overweight 5kg, tetapi dengan menjelaskan bahwa saya akan mengambil penerbangan internasional, akhirnya saya cuma harus membayar setengahnya. Setelah sampai di Jakarta, saya lalu mengambil bus untuk menyebrang ke terminal 2, bisa dibilang lumayan repot juga membawa dua koper, saya check in lalu menunggu boarding.

Second Flight : Jakarta-Dubai

Perjalanan Jakarta-Dubai memakan waktu sekitar 8 jam, saya menggunakan pesawat Emirates. Selama di pesawat saya menonton beberapa film dan bermain game.

Penghilang rasa bosan di pesawat

Layover in Dubai

Saya harus transit di Dubai selama 2 setengah jam, tetapi menurut saya tidak apa-apa karena saya suka dengan bandara Dubai, ada banyak barang yang bisa dilihat dan Duty Free. Saya mendapat sedikit uang saku dari host family saya ketika mereka mengunjungi saya di Indonesia, dan saya langsung menukarnya ke Dirham. Di bandara internasional Dubai saya cuma singgah untuk mencari tempat makan (kue dan minuman), karena waktu untuk melihat-lihat kurang. Sisa uang dirham saya simpan untuk perjalanan pulang

Third Flight : Dubai-Frankfurt

Perjalanan Dubai-Franfkurt memakan waktu sekitar 6-7 jam, hal yang saya lakukan sama seperti penerbangan sebelumnya, tetapi pesawat yang digunakan lebih bagus daripada pesawat Jakarta-Dubai.

Finally HELLO DEUTSCHLAND!

Setelah 7 jam akhirnya saya tiba di Jerman! SETELAH 3 TAHUN! AKHIRNYA! Saya sangat senang karena bisa kembali ke "kampung halaman", jujur saya sebenarnya saya agak sedikit pesimis bisa kembali ke Jerman dalam waktu yang dekat. Saya lalu menunggu koper saya dan keluar. Di sana Anne, Franz-Josef, dan Jenny sudah menunggu. Saya sangat senang bisa melihat mereka lagi! Kami lalu ke mobil dan pertama-tama mengantar Jenny kembali ke tempat tinggalnya (dia kuliah di Bonn).



Percobaan pertama dengan menggunakan tongsis :D

Setelah mengantar saudara perempuan saya kembali ke tempatnya, kami pun melanjutkan perjalanan ke Haltern am See. Di perjalanan saya kebanyakan tertidur karena masih capek, tetapi saya juga sangat senang dan penasaran seperti apa kota saya selama tiga tahun saya tinggalkan. Setelah 2 jam perjalanan saya akhirnya tiba di rumah. Begitu senang melihat kembali rumah saya, ada beberapa perubahan, terutama di dapur yang telah direnovasi. Kamar saya juga sedikit berubah, yang dulunya meja belajar diganti dengan tempat tidur bayi, tetapi selain itu tidak banyak yang berubah.

Hari kedua

Saya hanya memiliki sedikit waktu di hari kedua dikarenakan saya telah membeli tiket ke Milan pada malam harinya. Agenda saya pada hari kedua adalah untuk mendaftarkan diri saya di Institut for International Communication Düsseldorf (IIK-Düsseldorf) untuk les bahasa Jerman selama 2 minggu. Pada pagi hari saya berjalan-jalan di sekitar kota, makan es krim. Dari Stadt-Zentrum tidak banyak yang berubah, saya sangat senang bisa berada di sini lagi. Saya juga menyempatkan diri untuk membeli kartu SIM, harnya bisa dibilang relatif mahal kalau dibandingkan dengan Indonesia. Untuk kartu perdana harganya €20 dengan pulsa €10. Pulsanya lalu saya gunakan untuk menggunakan internet, paketan unlimitednya €9.95/bulan dengan kuota yang sangat minimal yaitu 200MB. 

Es krim rasa Röcher

Haltern am See
Setelah makan siang, saya dan Franz-Josef lalu berangkat ke Düsseldorf untuk mendaftarkan diri saya. Kami lalu naik kereta pada pukul 14.07 dari Haltern-Essen. Kami harus menunggu sekitar 20 menit untuk melanjutkan perjalanan dari Essen-Düsseldorf. Setelah sampai di sana kami lalu mengambil Straßenbahn menuju ke tempat les. Setelah registrasi selesai, kami lalu pergi untuk mengurus Youngticket (Tiket kereta yang akan saya gunakan untuk transportasi dari Halter-Düsseldorf), lalu pulang. Setelah itu saya mengpacking barang-barang saya untuk ke Milan dan Swiss. 

Saya rasa sekian dulu untuk cerita dua hari pertama saya di Jerman. Saya berterima kasih karena kalian telah membaca cerita "singkat" saya sampai akhir. Saya akan sangat senang jika kalian meninggalkan komen di bawah ini :)

Stay tune and the next story will be : "Summer 2014 : Survival (Solo Travelling) in Milan"!

Senin, 16 September 2013

ITS Study Excursion (Thailand 2013), preparing ITS for ASEAN Economic Community 2015. #ITSGoesGlobal

(mine is the blue one :p, it's really easy to recognize it)


Sawasdee-Kaa!
Hmm gimana ya cara memulai postingan ini. Hummm..

Ada beberapa anak yang message di facebook "Dala, kamu dimana? Kok jarang kelihatan di TC?" 

Jadi, tanggal 9-14 September 2013, saya Alhamdulillah terpilih menjadi salah satu delegasi ITS Study Excursion ke Thailand. Pendaftarannya sudah jauh.jauh hari sebelumnya, pengumpulan berkas terakhir di awal Mei. Saya mengetahui info tersebut karena membuka website International Office ITS (http://io.its.ac.id) dan juga diinfo lebih lanjut oleh volunteer-volunteer IO yang waktu itu ada di TC. Dari awal saya sudah berminat untuk mendaftar, kalau diterima Alhamdulillah, kalau tidak tidak apa-apa. Akhirnya pengunguman ke tahap wawancara keluar, dan Alhamdulillah saya lolos. Tapi sayangnya tidak ada mahasiswa Teknik Informatika yang lolos, entah yang mendaftar sedikit atau bagaimana.

Dari 40 yang diwawancara, saya salah satu dari 18 mahasiswa yang terpilih. Alhamdulillah. Setelah membawa nama sekolah dan Indonesia sebagai siswi pertukaran pelajar waktu SMA dulu, impian saya selanjutnya adalah membawa nama universitas saya di luar negeri. Memakai almamater universitas di negeri orang. Hal yang mungkin sebagian orang anggap sepele tapi bagi saya tidak.

Banyak orang yang bertanya : Apa sih sebenarnya ITS Study Excursion itu? Di sana kamu ngapain? Jalan-jalan? Studi tour? Enak dong. Tujuan utama kami ke sana bukanlah untuk jalan-jalan dari satu tempat wisata ke tempat lain. Kami berada di sana untuk memperkenalkan ITS dan Indonesia ke 3 Universitas terbaik yang ada di Thailand, yaitu Chulalongkorn University, Thammasat University, dan King Mongkut's University of Technology Thonburi. Di sana kita memperkenalkan ITS supaya menarik minat dan perhatian mereka akan adanya kerja sama di antara 2 universitas. Agar Internasionalisasi di ITS semakin terbuka.

Persiapan kami lakukan dari bulan Mei, mulai dari pembagian kelompok dan latihan presentasi dan pertujukan untuk dibawakan di Thailand nanti. Kami harus mampu membuat mereka merasa terkesan dengan presentasi dan penampilan kita. Latihan intensif kami lakukan sewaktu setelah liburan, hampir setiap hari saya nongkrong di jalan antara rektorat dan perpustakaan untuk latihan presentasi dan menari.

Hari pertama, 9 September 2013 kami berkumpul di bandara Internasional Juanda jam 13.00 WIB, sambil menunggu waktu take-off, saya memperhatikan delegasi-delegasi yang lain, kebanyakan senang karena inilah pertama kalinya mereka ke luar negeri, dan bukan dalam rangka liburan, tetapi membawa nama ITS. Saya senang, karena IO ITS dapat mewujudkan beberapa impian mereka.

Kami tiba di Thailand sekitar pukul 20.00, agak sedikit terlambat karena macet di bagian Imigrasi. Setelah tiba kami langsung ke bus dan menuju ke tempat. Makan malam hari pertama Tom Yam dan makanan khas Thailand lainnya. Setelah itu kami check in di hotel dan beristirahat. 

Hari kedua, kami berkumpul di lobby hotel jam 8. Dikarenakan pada tanggal itu kami tidak memiliki janji dengan universitas, hari ini diisi dengan jalan-jalan. Pertama ke Honey Bee (tempat produksi madu), setelah itu ke Jewel's Factory. Makan siang kami adalah all-you-can-eat di Asia Hotel, dan sudah itu waktu untuk shopping di Platinum Mall. Setelah itu kami makan malam di sebuah restauran. Di situ kami bertemu dengan mahasiswa-mahasiswi Universitas Diponegroro (UNDIP) jurusan Teknik Lingkungan Angkatan 2010 yang sedang mengadakan KKL di Thailand selama 4 hari. Kebetulan mereka baru tiba dan ternyata satu hotel dengan kita.

Hari ketiga: disinilah perjalanan ini dimulai. Disinilah tujuan utama kami menyebrang negeri dimulai. Jam 7 kami berkumpul di lobby, tetapi kali ini dengan mengenakan Almamater. Kami berangkat ke Chulalongkorn University, dan kami tiba pada pukul 8 lebih sedikit. Cepat sejam dari waktu yang ditentukan. Seorang staff telah menanti kami, dan sambil menunggu jam 9 kami diajak berkeliing sekitaran Faculty of Engineering. Di Thailand mahasiswa wajib mengenakan seragam ketika kuliah (untuk Universitas Negeri). Seragam mereka : bawahan biru/hitam (celana panjang untuk cowok, rok untuk cewek), dan atasan kemeja putih. Di Chulalongkorn maba cowok mengenakan dasi hitam, maba cewek mengenakan sepatu putih. Ide memakai seragam ini sebenarnya sangat bagus, karena tidak akan ada kesenjangan sosial yang terlihat. Semuanya sama. 

Chulalongkorn University, Faculty of Engineering


Bangunan Universitas Chulalongkorn (CU) lebih mirip dengan bangunan khas Belanda di jaman  abad 18an, tahun ini 2013 universitas ini genap berusia 100 tahun, dan mereka membangun gedung baru dalam rangka memperingati 100 tahun universitas mereka. Kira-kira apa ya yang akan dibangun pada saat ITS sudah mencapai 100 tahun? Sekedar info, CU merupakan universitas nomor 1 di Thailand, dibangun oleh raja Chulalongkorn. Dan ketika wisuda yang membagi ijazah mereka ada Raja Thailand, bukan rektor. Hebat, bukan?

Pukul 9 kami dibawa ke salah satu ruangan kelas di ISE (International School of Engineering) CU. Mereka memiliki 2 program, yang reguler dan internasional. Di ruangan itu kami dan beberapa mahasiswa ISE CU berkumpul. Acara dibuka oleh Dean dari ISE, dan setelah itu perkenalan tentang CU. Nah di CU yang kelas internasional mereka menggunakan "Interdiscplinary Programs", jadi jurusan mereka tidak dibagi seperti Teknik Sipil, Teknik Informatika, melainkan gabungan dari beberapa jurusan. Untuk S1, di CU terbagi menjadi 4 program, yaitu :

  1. Automotive Design and Manufacturing Engineering (ADME). Gabungan dari teknik mesin dan teknik industri.
  2. Aerospace Engineering (AERO). 
  3. Information and Communication Engineering (ICE). Gabungan dari teknik informatika, teknik elektro, dan teknik industri.
  4. Nano Enginnering (NANO). Gabungan dari teknik kimia, teknik material, teknik elektro.
Setelah penjelasan tentang ISE CU, Ibu Maria (Kepala International Office ITS) memberikan presentasi tentang ITS. Setelah itu kami diperkenalkan dengan mahasiswa-mahasiswa yang ada. Ternyata ada 4 mahasiswa pertukaran dari Indonesia, dan 3 diantaranya dari ITS (2 Teknik Industri, dan 1 Teknik Mesin), satu orang lagi dari ITB. Mereka mendapat full scholarship selama 1 semester (sekedar info uang kuliah kelas international di CU adalah 90.000 Baht/semester (sekitar 36 juta Rupiah).


Yang paling seru adalah saat kita diperbolehkan mengikuti kelas yang sedang berlangsung, dan kelas-kelas kami dibagi sesuai dengan jurusan kami. Saya menghadiri salah satu cabang dari kelas ICE yaitu High Technology Entrepreneurship. Kelasnya dibawakan oleh seorang profeesor (maaf lupa namanya siapa), dan bahasa pengantarnya adalah bahasa inggris. Dosennya mengajar dengan cara yang sangat komunikatif, sangat tidak bergantung pada slide dan lebih kepada diskusi. Pada saat itu kami membahas soal strategy penjualan. Setelah itu kami pun sempat berfoto sekelas. 

(berfoto dengan pak dosen, bapaknya lumayan gaul, hapenya iPhone 5)

(gambarnya agak kabur karena pakai manual fokusnya)
Setelah sesi mengikuti kelas, kami pun kembali ke ruangan meeting sebelumnya dan kami dibagi menjadi 3 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari mahasiswa ITS dan CU, dan masing-masing mendapat sebuah topik yang akan dibahas. Topik yang kami dapat adalah membandingkan Fasilitas dan Lingkungan antara ITS dan CU. Dan inilah hasilnya :

Persamaan:
  1. Memiliki sport facility (kecuali kolam renang).
  2. Memiliki medical center dan tidak dikenakan biaya untuk mahasiswa.
  3. Memiliki asrama.

Perbedaan
Insitut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya:
  1. Ada bike-tracknya (jalur untuk sepeda).
  2. Mayoritas mahasiswa memakai sepeda motor/kendaraan pribadi untuk ke kampus.
  3. Sedikit akses transportasi umum.
  4. Tidak memiliki kolam renang.
  5. Tidak ada "study hall" atau bangunan khusus untuk belajar.
  6. Parkir kendaraan gratis dan banyak tempat tersedia.
Chulalongkorn University:
  1. Tidak ada bike-track.
  2. Mayoritas mahasiswa menggunakan kendaraan umum (Bus, kereta, ojek).
  3. Banyak akses transportasi umum.
  4. Memiliki kolam renang.
  5. Memiliki study hall untuk belajar, dibuka lebih malam jika musium ujian.
  6. Sedikit tempat parkir, dan parkir kendaraan dikenakan (10 baht/jam) (sekitar 4000 rupiah9
  7. Family-environtment. Setiap senior menjadi "buddy" untuk satu junior. Buddy tugasnya untuk membantu jikalau juniornya memiliki kesusahan, bisa juga dibantu dalam pelajaran. Terutama untuk adaptasi pada masa maba.
  8. Ada bus gratis dari train station ke kampus, dan juga ada bus yang berputar-putar dalam kampus, semuanya free untuk mahasiswa CU.
Sebenarnya tidak banyak perbedaan antara ITS dan CU, tetapi perbedaan yang saya lihat adalah poster-poster di bangunan mengenai Asean Economic Community. Di ITS masih sangat jarang saya lihat poster-poster atau ulasan-ulasan mengenai AEC.

Ada kemungkinan ISE CU memberikan lagi full-scholarship kepada mahasiswa ITS untuk exchange semester depan atau tahun depan.

Setelah makan siang dan presentasi mengenai hasil diskusi, kamu berfoto bersama lalu mengunjungi AUN/SEED-Net (ASEAN University Network/the Southeast Asia Engineering Educational Development Network), ITS merupakan salah satu MoU yang terbaru. Di AUN/SEED-Net ini kami dijelaskan sedikit mengenai tujuan AUN/SEED-Net dan program-program beasiswa yang ditawarkan (untuk S2 dan riset). Sayangnya beasiswa untuk S1 masih tidak ada, tetapi pesan yang penting dari pembawa materi adalah bahwa kita sudah harus mempersiapkan dari sekarang, "usahakan IPK tinggi saat lulus nanti".

Setelah dari AUN/SEED-NET, kami. lalu singgah sebentar di Chulalongkorn University Museum. Perlu saya akui CU berpikir jauh tentang bagaimana mengiklankan universitas mereka. Bu Maria menyarankan kita untuk melihat baik-baik museum tersebut. Museum tersebut terdiri dari 3 lantai, dan ada semacam theater kecil yang memutar film tentang sejarah CU, tetapi sayangnya karena waktu yang terbatas kami tidak sempat melihatnya.

Chulalongkorn University Museum
Setelah CU, kami lalu menuju ke MBK (salah satu mall), dan Siam Discovery untuk menuju Madamme Tussauds (museum patung lilin). Setelah berkeliling selama beberapa jam, kami pun kembali ke hotel. Di hotel pun kami tidak langsung beristirahat, tetapi membahas soal konsep presentasi dan tarian nanti. Kami dibagi menjadi 2 kelompok, dan saya termasuk di dalam kelompok B yang akan membawakan presentasi di KMUTT.


Hari keempat, agenda kami adalah mengunjungi Thammasat University. Thammasat University terletak sedikit di luar kota Bangkok, dan perjalanan membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Pada saat kami tiba kami semua sangat terkagum-kagum dengan universitas tersebut dikarenakan luasnya tanah universitas tersebut. (sangat jauh lebih besar dari ITS). Awalnya kami langsung menuju Faculty of Engineering dan disambut oleh staff yang ada. Kami lalu menuju ke Aula tempat rapat, dan acara dibuka oleh mahasiswa yang bernama "Man". Setelah itu ada penjelasan tentang fakultas teknik TU.



Jadi dalam kelas internasional di TU dibagi menjadi dua program yaitu :

  1. Twinning Engineering Program (TEP) dimana mahasiswa akan belajar selama 2 tahun di Thammasat University, dan 2 tahunnya lagi di universitas luar. Di ITS, program ini mirip dengan double degree yang ditawarkan di beberapa jurusan.
  2. Thammasat English Programme of Engineering (TEPE) dimana mahasiswa akan belajar selama 4 tahun di Thammasat, tetapi semua kelas diajarkan dalam bahasa inggris. 
Saat dibuka sesi tanya jawab, ibu Maria bertanya tentang how struggle TU untuk mengajar mahasiswa-mahasiswanya dalam bahasa inggris, jawaban yang diberikan membuat kami sedikit terkagum. Jadi di TU untuk kelas internasional, mahasiswa tidak diberikan ijazah sarjana ketika nilai IELTS tidak mencapi 6.0. Jadi selama kuliah mereka diberikan waktu untuk belajar, tidak jarang yang mengambil tes IELTS lebih dari 10 kali. Jikalau mereka sudah menyelesaikan semua kredit kuliah, mereka akan diberikan waktu sampai 7 tahun masa studi untuk mencukupi nilai IELTS yang diberikan. Jika tidak maka tidak akan diberikan ijazah lulus, cuma transkript nilai saja. IELTS 6.0 merupakan standar yang tinggi. Apa yang kira-kira akan terjadi kalau standar TOEFL di ITS dinaikkan, misalnya menjadi 500 atau 550?

(brosur yang diberikan. jika ingin membaca secara langsung silahkan hubungi saya :))


Pertanyaan yang bagus dari ITS adalah bagaimana persiapan mahasiswa-mahaswai TU menghadapi AEC 2015, dan bagi mereka itu bukanlah menjadi sebuah masalah bagi mereka, karena mereka telah mempersiapkannya. Sebenarnya merupakan pukulan bagi kita juga dikarenakan masih kurangnya persiapan ITS mengenai AEC 2015.

Setelah tanya jawab, kami lalu diajak mengelilingi kampus. Tetapi sebelumnya kami ada tour dari ke lab-ke lab. Lab yang kami kunjungi adalah lab teknik mesin, lab teknik elektro, dan lab teknik sipil. Jika mereka ingin ke lab, mereka tidak harus menggunakan baju hitam putih melainkan baju workshop.

(saingannya sapu angin)


Seperti yang saya telah tulis sebelumnya, kampus tersebut sangatlah luas. Ada 6 stadium besar yang satu stadium luasnya lebih besar daripada gedung tc. Oh iya, di Thammasat mereka memiliki semacam Rektor Cup, dimana semua fakultas bersaing untuk memenangkan tiap cabang lomba olahraga yang ada, dan tahun ini yang mendapatkan juara umum adalah fakultas Teknik. Di Thammasat mereka juga memiliki asrama yang mampu menampung beribu-ribu mahasiswa dikarenakan lokasi TU yang agak sedikit jauh dari pusat kota. Jika ingin berkeleling kampus mahasiswa memakai bus yang menjadi salah satu fasilitas yang disediakan oleh kampus (and it's totally free). SPP di Thammasat adalah sekitar 20.000 baht (8 juta rupiah) untuk kelas reguler dan 80.000 baht (32 juta rupiah) untuk kelas internasional per semesternya. Setelah tour campus kami pun diberikan makan siang, lalu acara foto bersama. Sedih meninggalkan Thammasat dengan mahasiswa-mahasiswanya yang sangat ramah, 


(ini salah satu contoh busnya, kami memakai bus ini untuk berkeliling)


(di depan gedung fakultas teknik)

(dengan teman baru, Nuknik, semester 7 teknik elektro TEPE)
Thamasat University memberikan full-scholarship  kepada 2 mahasiswa ITS tahun ajaran depan. Untuk non-scholarship TU akan selalu menerima .
Ada 3 staff yang magang selama seminggu di Thammasat University.

Setelah dari Thammasat University, acara selanjutnya adalah tour ke Wat Po dan Wat Arun. Setelah itu kami pun makan malam di restauran terbesar di Thailand, lalu menuju ke Asiatique Riverview untuk menonton kabaret, lalu kembali ke hotel. Kami disuruh berkemas-kemas karena besoknya kami sudah harus check out, dan juga kami sempat berkumpul dulu untuk membicarakan presentasi yang akan dilakukan di KMUTT.



ITS Delegates and Staff!

Hari kelima, kami berkumpul di lobby beserta semua barang-barang kami. Setelah itu bus pun berangkat ke King Mongkut's University of Technology Thonburi (KMUTT). Perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 jam, karena lokasinya juga agak jauh dari hotel tempat kami menginap. KMUTT memiliki banyak cabang kampus, tetapi yang kami datangi merupakan kampus terbesar. Kami disambut dengan ramah oleh staff dan mahasiswanya.

Awalnya dibuka Dean fakultas teknik, dan penjelasan tentang KMUTT dibawakan oleh Ambassador KMUTT. Lalu diadakan sesi tanya jawab mengenai KMUTT. Dapat diakui bahwa KMUTT dan ITS memiliki banyak persamaan, terutama didirikan pada tahun yang sama dan juga universitas yang fokus di bidang teknologi. Lalu ibu Maria maju dan memberikan presentasi singkat tentang ITS, dan ada pertunjukan dari mahasiswa-mahasiswa KMUTT sambil menunggu mahasiswa yang belum datang dikarenakan ada kelas.

(berminat? brosurnya ada di saya, bisa saya pinjamkan)


KMUTT memberikan full-scholarship kepada semua exchange student. Seleksi diadakan oleh universitas masing-masing.

Ada 3 Staff ITS yang magang di KMUTT selama 1 minggu. Untuk tahun depan KMUTT menerima lebih banyak lagi staff untuk magang. 
Persembahan dari KMUTT


Setelah beberapa mahasiswa datang, giliran kamilah untuk membawakan pertunjukan dan presentasi mengenai ITS, Surabaya, dan Indonesia. Kami sempat deg-degan. Kami sudah mempersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya untuk hari ini. Alhamdulillah presentasi dan pertunjukan berjalan dengan lancar, bahkan mahasiswa-mahasiswi KMUTT ikut menari tor-tor bersama kami. Kami merasa sangat senang karena Bu Maria berkata bahwa dia sangat terharu dengan usaha kami.

Presentasi singkat mengenai kebudayaan Indonesia

Tari Gambyong dari Jawa Tengah
Tari Tor-Tor dari Medan
Mahasiswa KMUTT ikut menari Tor-Tor


Setelah pertunjukkan dan presentasi, kami lalu dipersilahkan untuk makan siang. Dan setelah makan siang, sambil menunggu waktu pulang kami berbincang-bincang dengan mahasiswa-mahasiswi yang ada. Ada yang berasal dari kelas internasional, tetapi ada juga yang tidak. Tetapi saya pribadi kagum dengan kemampuan mereka untuk berbicara bahasa inggris. Mereka sangat tertarik dengan ITS dan Indonesia, bahkan ada yang bilang ke saya bahwa dia sebenarnya cuma tertarik untuk exchange ke Jepang, tetapi setelah mendengarkan presentasi, dia mulai tertarik untuk mendaftar menjadi siswa exchange di ITS!

Sekitar 25 mahasiswa KMUTT akan ke ITS pada summer 2014 untuk melakukan kegiatan sosial bersama IO ITS

Dikarenakan waktu yang sudah mendesak, kami terpaksa harus mengucapkan selamat tinggal, dan menuju ke bus. Perhentian terakhir kami sebelum bandara adalah Kedutaan Besar Republik Indonesia Bangkok. Saya tidak pernah ke embassy Indonesia di manapun, jadi ini merupakan kunjungan yang sangat menarik bagi saya pribadi. Di sana kami disambut oleh Atase Pendidikan, dan beliau memberikan presentasi yang sangat penting mengenai ASEAN dan Thailand, juga tentang AEC. Bagaimana anak-anak di Thailand sudah diajar lagu ASEAN sejak mereka kecil, bagaimana di SD-SD sudah terpampang bendera ASEAN. Dan kita? Adakah dari kita yang hafal lagu ASEAN? Mesikpun sama-sama negara yang berkembang, dapat kita akui bahwa Indonesia tertinggal dalam rangka mempersiapkan masyarakatnya untuk AEC 2015. Universitas yang mulai aware tentang AEC dan yang sempat datang ke Thailand adalah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang ada di Bandung. Mereka mengatakan akan memasang bendera ASEAN di kampus mereka. Saya berharap ITS juga mulai memasang bendera ASEAN.

Ibu Maria dan Atase Pendidikan KBRI Bangkok

Grup B di depan KBRI Bangkok


Setelah itu kami menuju kembali ke bandara, dan menunggu pesawat kami. Sangat sedih harus meninggalkan Thailand, tetapi aktivitas perkuliahan semester ganjil sudah menunggu kita.

Melihat persiapan universitas-universitas di Thailand untuk AEC,  kita juga harus menjadi lebih "aware" dengan Internasionalisasi di dalam ITS. Ada berapa banyak yang tahu soal adanya International Office? Ada berapa banyak yang tahu bahwa tahun ini ITS untuk pertama kalinya menerima Darmasiswa? Berapa banyak yang tahu ada mahasiswa asing yang kuliah di ITS? Jujur saja sebelumnya saya kurang mengetahui dikarenakan di Teknik Informatika masih tidak ada mahasiswa exchange dari luar. Mempersiapkan diri untuk AEC bukanlah dilihat dari seberapa hebat kita bisa berkomunikasi dalam bahasa asing, tetapi bagaimana niat kita untuk memperbaiki kualitas diri, kampus, dan negara, agar kita tidak dirugikan kelak.

Akhir kata, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada International Office ITS yang telah memilih saya sebagai salah satu delegasi. Saya mendapat banyak sekali pengalaman berharga dalam seminggu ini, banyak teman baru, dan banyak pengetahuan dan informasi baru. It's a priceless experience.

Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut soal Internasional Office ITS, silahkan buka websitenya di (http:/io.its.ac.id), ada banyak info soal seminar dan beasiswa, atau langsung saja datang di kantornya di Gedung Rektorat lantai 2. Mereka sangat ramah ^^ (sekedar info saya bukan volunteer, ada banyak yang mengira bahwa harus menjadi volunteer untuk mengikuti acara-acara di IO)

APAKAH ITS SIAP UNTUK AEC 2015? YA! Dan mari kita bersama-sama mempersiapkan kampus kita tercinta :) #ITSGoesGlobal

A. Heynoum Dala Rifat
5112100084

Some useful links:
http://www.ise.eng.chula.ac.th/ (Chulalongkorn University)
http://www.tep.engr.tu.ac.th/ (Thammasat University)
http://www.seed-net.org/ (AUN/SEED-Net)
http://global.kmutt.ac.th/ (King Mongkut's University of Technology Thonburi)
http://io.its.ac.id/ (International Office ITS)
Facebook fotos (ada sekitar 500 foto)