A blog of everyday life and traveling experience.

Kamis, 07 Mei 2015

Exchange Student (Again) : Hello Korea!

Well, I've been here in Korea since 2 months, but I just got a little bit time to post. And it's been 3 months since my last post and I even not finished writing about ISFiT, but well...

Hai!
Akhirnya nulis lagi.
Singkat cerita, setelah ISFiT selesai, saya sempat ke Jerman 3 hari untuk mengunjungi host family saya, dan saya kembali ke Indonesia pada tanggal 20 Februari dengan penerbangan lebih dari 36 jam (Düsseldorf-Copenhagen-Oslo-Dubai-Jakarta-Makassar). Setelah itu saya hanya mempunyai beberapa hari di Makassar (tepatnya 2 hari), dan 4 hari di Surabaya. Why? Karena tanggal 26 Februari saya harus terbang (lagi) ke Korea Selatan.

Wait. What? Korea? Why? What are you doing?

Setelah mendaftar ISFiT, sebelum pengumuman belum keluar, saya mendaftar ikut program exchange yang dibuka oleh International Office ITS. Sebenarnya saya sudah daftar tahun lalu, tetapi karena sesuatu dan lain hal saya tidak berangkat. Jadinya setelah timbang sana timbang sini, saya akhirnya mendaftar lagi untuk exchange ke Chung-Ang University. Dan pengumumannya cepat banget, tidak sampai seminggu saya dinyatakan di nominasikan oleh ITS untuk berangkat. Alhamdulillah. 

Setelah mengisi aplikasi, mengurus visa, ikut ISFiT, ke Jerman, pulang ke Makassar, ke Surabaya, tibalah waktu saya untuk berangkat. Rasanya senang sekaligus sedih membayangkan bakalan 4 bulan ga pulang ke rumah, bakalan jauh lagi dari orang-orang tersayang. 

Makasih mas Tommy, mba Manda, mas Rahman beserta lab RPL :')
See you really really really really soon, Mas Ali :"
Saya terbang dengan menggunakan Air Asia, transit di Kuala Lumpur selama 6 jam. Tetapi saya tidak sendiri. Saya bersama mba Dila (RPL), dan juga mba Raissa (SI 2011). Mba Dila lanjut S2 di Busan, dan mba Raissa mengikuti program yang sama, tetapi dengan universitas yang berbeda. Dan di Kuala Lumpur kami bertemu dengan Ikhwan (Matematika 2012) yang juga akan melakukan exchange. 

Perjalanan Kuala Lumpur-Korea berlangsung sekitar 5-6 jam, dan di pesawat saya habiskan dengan kebanyakan tidur. Setelah sampai, kami menuju imigrasi, dan mengantri. Setelah hampir mengantri 15 menit, saya harus mengulang antrian saya lagi karena saya lupa untuk mengisi kartu imigrasi -_- Setelah itu kami menuju ke meeting point masing-masing universitas. Ada beberapa univ selain Chung-Ang. 

Nunggu jemputan

Dan setelah menunggu beberapa saat, datanglah GLAM (Global Ambassador) untuk menjemput kami.



So, Hello Korea!

*maaf singkat padat dan jelas*
Minggu, 08 Februari 2015

ISFiT 2015 : Day 3, Snow Storm?

There is no bad weather, only inappropriate clothing - Ranulph Fiennes


Lagi-lagi saya bangun pukul 4 pagi. Entah kenapa jam berapapun saya tidur saya tetap bangun jam segitu. Semoga saja 2-3 hari kedepan sudah tidak jet lag lagi. 

Pada hari workshop sebelumnya, diberitahukan bahwa mungkin tidak ada workshop dikarenakan cuaca yang baru (badai). Tetapi kita disuruh untuk bertanya kepada host family apakah aman untuk pergi keluar atau tidak. Tetapi host family saya berkata bahwa cuacanya memang buruk, tetapi tidak apa-apa untuk pergi keluar. Setelah sarapan, saya dan Xavier pun berjalan kaki bersama menuju bus stop. Benjamin dan Alexander sudah diantar duluan oleh Gundmund dikarenakan Benjamin harus berkumpul di tempat workshop pukul 08.30, sementara Alexander sudah siap untuk berangkat. Saya dan Xavier tidak mau tergesa-gesa karena itulah kami memutuskan untuk jalan kaki dan menggunakan bus. Untungnya kami jalan sedikit cepat dan tidak singgah untuk foto-foto dikarenakan ketika tiba di bus stop, busnya sudah datang.

Setelah sampai di halte Samfundet, saya dan Xavier pun berpisah, dan saya menuju ke tempat workshop saya. Di bus saya bertemu dengan Juan, yang juga satu workshop, dan berkenalan dengan beberapa isfiters yang lain. Ketika tiba di tempat workshop (Hist), saya kira bahwa saya sudah terlambat beberapa menit, tetapi acara belum dimulai dikarenakan banyak yang telat datang. 


Acara pertama yang dilakukan adalah check-in. Setelah itu warming up dengan sesi yoga dari Dylan (USA). Akhirnya semua pada bangun pada saat selesai yoga, bukan karena yoganya, tetapi karena kebanyakan ketawa. 




Banyak sesi menarik hari ini, tetapi maaf saya akan membuatnya sedikit lebih singkat. Selain games yang ketawa-ketawa, kami juga bermain decision game, di mana ada 2 (atau terkadang 3) sudut yang berarti jawaban dari sebuah pertanyaan. Contohnya "kamu berasal dari Norwegia?" sudut 1 iya, dan sudut 2 tidak. Awalnya pertanyaannya gampang, misalnya "apakah kamu lebih kamu lebih sering pakai facebook atau twitter", atau "apakah kamu pikir Norwegia merupakan tempat terbaik", tetapi semakin lama pertanyaannya (atau pernyataan) semakin susah seperti "Permpuan boleh menentukan sendiri pilihannya untuk aborsi atau tidak". Atau "Apakah demokrasi merupakan sistem pemerintahaan terbaik?" "Apakah media bisa bersifat objektif?"

Setelah makan siang yang diisi dengan dance session, diskusi dilanjutkan lagi dengan sesuatu yang lebih serius. Kami dibagi menjadi 5 kelompok dan diharuskan untuk mencari satu topik yang berhubungan dengan korupsi dan mendiskusikan tentang :
  • Penyebab korupsi
  • Siapa yang melakukannya
  • Apa efeknya
  • Apa dampaknya bagi komunitas
Setelah berunding dan berdiskusi simpang siur akhirnya kami memutuskan untuk membahas tentang korupsi yang dilakukan oleh polisi di beberapa negara berkembang (atau hampir semua berkembang di dunia). Salah satu tindakan korup yang baik polisi maupun masyarakat sering lakukan adalah bribery (sogok-menyogok). Bukan hanya di Indonesia saja hal tersebut sangat lumrah terjadi, di Afrika dan di Rusia hal tersebut pun terjadi. Salah satu penyebab terbesar terjadinya sogok menyogok menurut kelompok kami adalah karena greed, habit, income dll. Dampaknya bagi komunitas adalah uang yang seharusnya masuk menjadi pajak dan dapat digunakan untuk rakyat malah masuk ke kantong polisi. 



Setiap kelompok lalu mempresentasikan hasil dari diskusi masing-masing. Setiap kelompok diberi waktu 5 menit, dan masing-masing kelompok memilih topik yang sangat bagus, contohnya salah satu kelompok membahas tentang pendidikan dan sogok menyogok yang terjadi.

Acara ditutup dengan checkout dan kami pergi makan. Perjalanannya sama dengan kemarin, memakan waktu sekitar 10 menit, tetapi kali ini medannya lebih susah karena lagi turun salju. Selama workshop malah sedikit badai. Setelah makan, saya bersama Oda, Anja (Polandia), dan Henry (Rwanda) pergi ke Trafo untuk meminjam baju hangat. Topi saya dibeli di Indonesia, dan kurang tebal bagi saya sehingga telinga saya sakit. Saya sebenarnya ingin meminjam earmuff, tetapi sayangnya tidak ada jadi saya dikasih topi yang lebih tebal.

Saya mendaftar untuk acara pleno untuk hari ini yaitu : Why Is the World Corrupt? The Cause of Corruption. Plenonya dimulai pada pukul 6, jadi setelah dari Trafo kami berkumpul di Edgar, semacam cafe sambil menunggu hall-nya dibuka. Bintang tamunya adalah Peter Eigen, co.founder dari Transparency International. Dia membawakan pidato yang sangat menarik, dan dia sempat meneteskan air mata mencerita tentang pengalaman pribadinya dan juga korupsi yang terjadi. Sayangnya (lagi-lagi) saya merasa kurang sehat dikarenakan cuaca yang sangat buruk, jadi ketika ada waktu istiraha 15 menit saya memutukan untuk pulang ke rumah.

Plenary Session

Peter Eigen
Bisa dibilang saya lumayan tidak beruntung, karena badainya tambah kencang, dan saya harus berlindung di sebelah halte. Saya bertemu peserta isfit lagi dari Benin, dan sedikit bercerita-cerita dengan dia. Saya sudah mulai kedinginan, dan tangan saya sudah mulai sakit sekali. Badainya itu seperti hujan deras yang bisa menyebabkan banjir, tetapi yang turun bukan air tapi salju. Dengan kecepatan tinggi jadi susah melihat, sakit, dan tentu saja lebih dingin dari air biasa. Setelah 15 menit berdiri menunggu bus (busnya telat datang), saya akhirnya lalu tiba di rumah.

links:
- Transparency International : http://www.transparency.org/

ISFiT 2012 : Day 2 (part 2), The Opening Ceremony!

Foto:foto.samfundet.no
Hallo lagi. Maaf postingan ini agak telat, seharusnya saya posting kemarin, tetapi thanks to jet lag, saya terlalu capek untuk menulisnya ._.v

Jadi pada saat selesai makan, saya lalu bertanya arah terdekat menuju bus stop, dikarenakan kalau saya kembali ke Samfundet membutuhkan waktu lebih lama. Setelah diarahkan, saya lalu menuju tempat tersebut. Di perjalanan saya bertemu Paul, dari Jerman, kami berasal dari workshop yang sama. Ternyata dia juga mengambil rute bus yang sama. Untungnya kami tidak salah jalan, dan sempat ketemu sama Aliya di bus stop, tapi dia menggunakan rute yang berbeda. 2 menit setelah kami tiba, bus 22 pun tiba. Dari bus stop itu cuma membutuhkan 3 stasiun menuju bus stop tempat saya harus turun (Nardokrysset), dari Samfundet ke Nardokrysset jaraknya 6 atau 7 bus stop.

Karena baru pertama kalinya pulang sendiri, awalnya saya hampir tersesat. Saya mau menelfon mereka tetapi saya ingat kalau pulsa di SIM card Jerman saya habis, dan saya juga lupa nomor mereka. Saya lalu mencoba untuk meraba-raba jalan, dan akhirnya bertemu dengan terowongan yang saya lewati pagi tadi. Dan 3 menit kemudian saya sudah berada di rumah.

Depan rumah

Akhirnya tiba juga. Home for 10 days.
Saya masih mempunyai sedikit waktu jadi saya mencoba untuk tidur sebentar (meskipun gagal), lalu setelah itu bersiap-siap untuk pergi ke opening ceremony. Dresscode untuk opening ceremony ini adalah formal/national/traditional clothes, dan saya sudah mempersiapkan baju bodo dari Sulawesi Selatan. Saya sebenarnya dapat memakai dress biasa saja, tetapi tidak ada salahnya untuk tampil beda dan unik di opening ceremony tersebut. 

Meet the host!
With Xavier, housemate from USA
Setelah siap-siap (dan terburu-buru), saya lalu diantar oleh Gudmund menuju Samfundet bersama Xavier. Perjalanan cuma memakan waktu 5 menit dari rumah menuju Samfundet menggunakan mobil. Sebelumnya di workshop sudah diberitahu bahwa kami akan bertemu di depan 7-11, tetapi ternyata mereka semua sudah masuk karena lebih baik menunggu di dalam daripada di luar. Oda (contact person workshop) menjemput saya, dan dia mengatakan dia sangat suka baju saya. Dia menggunakan baju tradisional Norwegia. Setelah masuk ke dalam ruangan, saya lalu menitipkan jaket saya, lalu mencari teman workshop saya. 

Kami menunggu kira-kira hampir setengah jam sebelum opening ceremony di mulai. Beberapa juga menggunakan national costume mereka, seperti Romeo dari Uganda, Esi - dari Indonesia - menggunakan kebaya yang warnanya merah (sama dengan baju bodo saya), Arqum dari Pakistan, dan yang lain. 

Opening ceremony berlangsung dengan seru meskipun (lagi-lagi) ketika hampir selesai saya merasa sangat ngantuk. MCnya sangat lucu dan tidak jarang membuat kami ketawa (semi stand-up comedy). Lalu ada opening speech dari presiden ISFIT 2015, Marius Jones. Ternyata dia orangnya juga sangat lucu. Ada choir yang semua anggotanya laki-laki. Mereka sangat energetik dan sangat menghibur. Sayang mereka hanya membawakan 2 lagu. 

co-founder

Pilun, the choir


Selain acara yang menghibur,ada juga acara yang serius. Seorang fotografer, Werner Anderson, berbagi pengalamannya yang mengilustrasikan korupsi ketika dia berada di Cambodja. Orang-orang dipaksa keluar dari rumah mereka, rumah mereka digusur untuk membangu perumahan yang mewah. Ini menjadi refleksi bagi kita betapa korupsi dapat berdampak sangat besar bagi banyak orang. Tamu spesial malam itu juga adalah salah satu pencetus ISFiT, Jaren Rystad. Dia menceritakan pengalamannya. 

Bintang tamu malam itu adalah Moddi. Lagu-lagunya sangat bagus, dan suaranya sangat merdu. Selain itu ada juga penari, dan satu lagi paduan suara. Saya berusaha tetap fokus meskipun sangat ngantuk, tetapi pada akhirnya ketika Moddi membawakan lagu terakhir saya tidak memperhatikan haha.


Setelah Moddi tampil, berakhirlah sudah opening ceremony. Saya lalu sempat berfoto dengan yang lain, bahkan saya menyempatkan diri untuk berfoto bersama presiden ISFiT (thanks to Jacky for the pic). Setelah itu saya keluar ke hall dan bertemu dengan yang lain. Sejam kemudian saya memutuskan untuk pulang. Di perjalanan pulang saya bertemu Benjamin dan kami pulang bersama.

cewek ini tiba-tiba datang dan bilang dia suka dengan kostum saya

Indonesian!

After the ceremony

Dengan Lames, tinggal di Arab, 50% Maroko 50% Indonesia

Romeo dari Uganda

Munya dan Arqum

Links;
- http://online.isfit.org (to watch the isfit online)
https://www.isfit.org/articles/365 (opening ceremony article)