A blog of everyday life and traveling experience.

Minggu, 27 September 2015

Summer 2014 : My Two Weeks at IIK (Institute for International Communication) Düsseldorf

So hello! It's nice to write something again, I realize my muse has been up and down these days, and also I have tons to do..

Finally I decided to write something in English, because some people ask me to. I really want to write in a few languages, but sadly no time.

Okay, I know now it's 2015, but I want to throw myself a bit into the past before I forget about it. So for you who didn't know, fortunately I got a chance to fly back to my second home last year (2014). I actually wanted to go in 2013, but there was visa problem so I had to postpone my adventure. And finally I got my visa in the next year, and decided to stay for a month. Let me tell you a secret, I was allowed to go back to Germany after I had an agreement with my parents to do some German course, because they didn't want me to do only "fun". 

After searching some information about some places/institutions, I finally decided to have a two-week intensive course in IIK-Düsseldorf. IIK stands for Institut für Internationale Kommunikation, or in English, Institut for International Communication (it's not difficult to translate, right?). They actually had really good offer for another long-term courses, but I only have 1 month time and the only program possible for me was the 2-week course.

I already signed up before my departure, but I still need to pay and the best way was to pay it direct. So on my very first day, my host father and I went to IIK, and also asked a few questions. To determine my level, I needed to make a placement test, and I remember I took the placement test with Valentine's computer in Switzerland (thank you for that, Valentine!) I got the result a few days later, and fortunately I got the morning class. I prefer to have morning class (from 9 to 12) because I would finish the class early and could do something else later in the afternoon.

My class began on June 30th and for two weeks. Do you know what the tiring part was? It's the journey from Haltern am See to Düsseldorf. As you see from the map below, the distance was about 80km (said Google Maps), and I need about 1 hour and more to get there. So everyday, for 2 weeks, I felt like student again, waking up between 5-6, had breakfast (I showered the night before), and then went to the train station with my bicycle. I had two options of train, the first one departed at 6.43, but I didn't need to change. The second one departed at 7.07, but I needed to wait for about 20 minutes in Essen. Most of the time I took the early one, and arrived 1 hour earlier hahaha ^^ (typical Asia, so diligent :D) I could also take the train at 7.43, but I would be late for a few minutes because it took around 10 minutes by S-Bahn from Düsseldorf train station to IIK-Düsseldorf. 

long long journey..
option 1
option 2
And the way back to home also needed a bit of struggle, because I needed to leave the class immediately after it finished, if I missed the S-Bahn, I would have to wait 1 hour for the train, and would be late for lunch.

So can you feel my tiring 2 weeks?

But to be honest, I slept most of the time on the train, hahaha. The tiring part was only the train part (I spend around 3 hours/day on the train). Beside that, it was an amazing 2 weeks with IIK-Düsseldorf!

Because our class was only for 2 weeks and the holiday hasn't started yet in some other countries, our class had only a few people. At first I guess we had 9 students, but 2 students got transferred to lower class. So there were 7 of us for a few days, until one student got transferred to the regular class because he would stay for 2 months.

But the smaller the class, the more attention we got from the teacher.  From Monday to Wednesday, our teacher was Sarah, and for Thursday and Friday we had Inna. 

The part I love the most was I got the chance to meet some more friends from different countries. So in our tiny class, we had 2 people from Poland, 2 from China, 1 from USA, and me! We had fun even though we barely knew each other at first, but then we got closer and closer during the days, and decided to have reunion a few years later (maybe 5 more years?) in Bali :D :D :D

One day we had lunch together in Japanese Restaurant :)
JAPANESE AREAAA!



So that's my short story about IIK-Düsseldorf, and if I am given another chance, would love to learn again in that place ^^ 


beloved IIK :D

A Ramadha Guide for Non-Muslim!

our small class!

thanks for reading!

Kamis, 07 Mei 2015

Exchange Student (Again) : Hello Korea!

Well, I've been here in Korea since 2 months, but I just got a little bit time to post. And it's been 3 months since my last post and I even not finished writing about ISFiT, but well...

Hai!
Akhirnya nulis lagi.
Singkat cerita, setelah ISFiT selesai, saya sempat ke Jerman 3 hari untuk mengunjungi host family saya, dan saya kembali ke Indonesia pada tanggal 20 Februari dengan penerbangan lebih dari 36 jam (Düsseldorf-Copenhagen-Oslo-Dubai-Jakarta-Makassar). Setelah itu saya hanya mempunyai beberapa hari di Makassar (tepatnya 2 hari), dan 4 hari di Surabaya. Why? Karena tanggal 26 Februari saya harus terbang (lagi) ke Korea Selatan.

Wait. What? Korea? Why? What are you doing?

Setelah mendaftar ISFiT, sebelum pengumuman belum keluar, saya mendaftar ikut program exchange yang dibuka oleh International Office ITS. Sebenarnya saya sudah daftar tahun lalu, tetapi karena sesuatu dan lain hal saya tidak berangkat. Jadinya setelah timbang sana timbang sini, saya akhirnya mendaftar lagi untuk exchange ke Chung-Ang University. Dan pengumumannya cepat banget, tidak sampai seminggu saya dinyatakan di nominasikan oleh ITS untuk berangkat. Alhamdulillah. 

Setelah mengisi aplikasi, mengurus visa, ikut ISFiT, ke Jerman, pulang ke Makassar, ke Surabaya, tibalah waktu saya untuk berangkat. Rasanya senang sekaligus sedih membayangkan bakalan 4 bulan ga pulang ke rumah, bakalan jauh lagi dari orang-orang tersayang. 

Makasih mas Tommy, mba Manda, mas Rahman beserta lab RPL :')
See you really really really really soon, Mas Ali :"
Saya terbang dengan menggunakan Air Asia, transit di Kuala Lumpur selama 6 jam. Tetapi saya tidak sendiri. Saya bersama mba Dila (RPL), dan juga mba Raissa (SI 2011). Mba Dila lanjut S2 di Busan, dan mba Raissa mengikuti program yang sama, tetapi dengan universitas yang berbeda. Dan di Kuala Lumpur kami bertemu dengan Ikhwan (Matematika 2012) yang juga akan melakukan exchange. 

Perjalanan Kuala Lumpur-Korea berlangsung sekitar 5-6 jam, dan di pesawat saya habiskan dengan kebanyakan tidur. Setelah sampai, kami menuju imigrasi, dan mengantri. Setelah hampir mengantri 15 menit, saya harus mengulang antrian saya lagi karena saya lupa untuk mengisi kartu imigrasi -_- Setelah itu kami menuju ke meeting point masing-masing universitas. Ada beberapa univ selain Chung-Ang. 

Nunggu jemputan

Dan setelah menunggu beberapa saat, datanglah GLAM (Global Ambassador) untuk menjemput kami.



So, Hello Korea!

*maaf singkat padat dan jelas*
Minggu, 08 Februari 2015

ISFiT 2015 : Day 3, Snow Storm?

There is no bad weather, only inappropriate clothing - Ranulph Fiennes


Lagi-lagi saya bangun pukul 4 pagi. Entah kenapa jam berapapun saya tidur saya tetap bangun jam segitu. Semoga saja 2-3 hari kedepan sudah tidak jet lag lagi. 

Pada hari workshop sebelumnya, diberitahukan bahwa mungkin tidak ada workshop dikarenakan cuaca yang baru (badai). Tetapi kita disuruh untuk bertanya kepada host family apakah aman untuk pergi keluar atau tidak. Tetapi host family saya berkata bahwa cuacanya memang buruk, tetapi tidak apa-apa untuk pergi keluar. Setelah sarapan, saya dan Xavier pun berjalan kaki bersama menuju bus stop. Benjamin dan Alexander sudah diantar duluan oleh Gundmund dikarenakan Benjamin harus berkumpul di tempat workshop pukul 08.30, sementara Alexander sudah siap untuk berangkat. Saya dan Xavier tidak mau tergesa-gesa karena itulah kami memutuskan untuk jalan kaki dan menggunakan bus. Untungnya kami jalan sedikit cepat dan tidak singgah untuk foto-foto dikarenakan ketika tiba di bus stop, busnya sudah datang.

Setelah sampai di halte Samfundet, saya dan Xavier pun berpisah, dan saya menuju ke tempat workshop saya. Di bus saya bertemu dengan Juan, yang juga satu workshop, dan berkenalan dengan beberapa isfiters yang lain. Ketika tiba di tempat workshop (Hist), saya kira bahwa saya sudah terlambat beberapa menit, tetapi acara belum dimulai dikarenakan banyak yang telat datang. 


Acara pertama yang dilakukan adalah check-in. Setelah itu warming up dengan sesi yoga dari Dylan (USA). Akhirnya semua pada bangun pada saat selesai yoga, bukan karena yoganya, tetapi karena kebanyakan ketawa. 




Banyak sesi menarik hari ini, tetapi maaf saya akan membuatnya sedikit lebih singkat. Selain games yang ketawa-ketawa, kami juga bermain decision game, di mana ada 2 (atau terkadang 3) sudut yang berarti jawaban dari sebuah pertanyaan. Contohnya "kamu berasal dari Norwegia?" sudut 1 iya, dan sudut 2 tidak. Awalnya pertanyaannya gampang, misalnya "apakah kamu lebih kamu lebih sering pakai facebook atau twitter", atau "apakah kamu pikir Norwegia merupakan tempat terbaik", tetapi semakin lama pertanyaannya (atau pernyataan) semakin susah seperti "Permpuan boleh menentukan sendiri pilihannya untuk aborsi atau tidak". Atau "Apakah demokrasi merupakan sistem pemerintahaan terbaik?" "Apakah media bisa bersifat objektif?"

Setelah makan siang yang diisi dengan dance session, diskusi dilanjutkan lagi dengan sesuatu yang lebih serius. Kami dibagi menjadi 5 kelompok dan diharuskan untuk mencari satu topik yang berhubungan dengan korupsi dan mendiskusikan tentang :
  • Penyebab korupsi
  • Siapa yang melakukannya
  • Apa efeknya
  • Apa dampaknya bagi komunitas
Setelah berunding dan berdiskusi simpang siur akhirnya kami memutuskan untuk membahas tentang korupsi yang dilakukan oleh polisi di beberapa negara berkembang (atau hampir semua berkembang di dunia). Salah satu tindakan korup yang baik polisi maupun masyarakat sering lakukan adalah bribery (sogok-menyogok). Bukan hanya di Indonesia saja hal tersebut sangat lumrah terjadi, di Afrika dan di Rusia hal tersebut pun terjadi. Salah satu penyebab terbesar terjadinya sogok menyogok menurut kelompok kami adalah karena greed, habit, income dll. Dampaknya bagi komunitas adalah uang yang seharusnya masuk menjadi pajak dan dapat digunakan untuk rakyat malah masuk ke kantong polisi. 



Setiap kelompok lalu mempresentasikan hasil dari diskusi masing-masing. Setiap kelompok diberi waktu 5 menit, dan masing-masing kelompok memilih topik yang sangat bagus, contohnya salah satu kelompok membahas tentang pendidikan dan sogok menyogok yang terjadi.

Acara ditutup dengan checkout dan kami pergi makan. Perjalanannya sama dengan kemarin, memakan waktu sekitar 10 menit, tetapi kali ini medannya lebih susah karena lagi turun salju. Selama workshop malah sedikit badai. Setelah makan, saya bersama Oda, Anja (Polandia), dan Henry (Rwanda) pergi ke Trafo untuk meminjam baju hangat. Topi saya dibeli di Indonesia, dan kurang tebal bagi saya sehingga telinga saya sakit. Saya sebenarnya ingin meminjam earmuff, tetapi sayangnya tidak ada jadi saya dikasih topi yang lebih tebal.

Saya mendaftar untuk acara pleno untuk hari ini yaitu : Why Is the World Corrupt? The Cause of Corruption. Plenonya dimulai pada pukul 6, jadi setelah dari Trafo kami berkumpul di Edgar, semacam cafe sambil menunggu hall-nya dibuka. Bintang tamunya adalah Peter Eigen, co.founder dari Transparency International. Dia membawakan pidato yang sangat menarik, dan dia sempat meneteskan air mata mencerita tentang pengalaman pribadinya dan juga korupsi yang terjadi. Sayangnya (lagi-lagi) saya merasa kurang sehat dikarenakan cuaca yang sangat buruk, jadi ketika ada waktu istiraha 15 menit saya memutukan untuk pulang ke rumah.

Plenary Session

Peter Eigen
Bisa dibilang saya lumayan tidak beruntung, karena badainya tambah kencang, dan saya harus berlindung di sebelah halte. Saya bertemu peserta isfit lagi dari Benin, dan sedikit bercerita-cerita dengan dia. Saya sudah mulai kedinginan, dan tangan saya sudah mulai sakit sekali. Badainya itu seperti hujan deras yang bisa menyebabkan banjir, tetapi yang turun bukan air tapi salju. Dengan kecepatan tinggi jadi susah melihat, sakit, dan tentu saja lebih dingin dari air biasa. Setelah 15 menit berdiri menunggu bus (busnya telat datang), saya akhirnya lalu tiba di rumah.

links:
- Transparency International : http://www.transparency.org/